Baru – baru ini kita dikejutkan oleh kasus penipuan oleh perusahaan travel umrah yang menipu banyak orang yang sudah bergabung dengan merrka yaitu First Travel. Tentu kejadian ini menjadi pembicaraan hangat karena perusahaan tersebut pernah mendapatkan penghargaan di mana ironisnya orang juga merasa percaya karena hal tersebut yang membuktikan perusahaan itu benar – benar bagus. Tapi uniknya kejadian tersebut bukanlah satu – satunya, sebelumnya kita juga pernah mendengar kasus penipuan Dimas Kanjeng yang bisa melipatgandakan duit bahkan orang yang pendidikannya tinggi pun bisa percaya dengannya. Lalu ada pandawa grup yang merupakan investasi bodong, dan beberapa kasus lain seperi penipuan berhadiah atau penipuan lowongan kerja. Itu masih dunia nyata, dunia maya pun juga sama, banyak informasi hoax yang dipercaya mentah – mentah seperti informasi zat kimia yang gak bagus buat kesehatab pada kandungan barang makanan kemasan tertentu, lalu informasi seputar bahaya angin malam atau apalah itu, lalu yang paling sering cara melakukan perawatan pertama pada orang yang terjatuh di kamar mandi karena pecah pembuluh darah dengan menusuk jarum ke bagian tertentu.
Ya baik dunia maya atau dunia nyata kasus penipuan atau penyebaran hoax masih kita lihat hingga saat ini, bahkan ketika lembaga berwenang memberikan klarifikasi masih saja ada yang percaya dengan tipuan – tipuan tadi. Lalu, kenapa mereka masih ada yang percaya terkait penipuan itu?
Ada tiga alasan kenapa mereka terus – terusan percaya. Tiga alasan itu adalah sebagai berikut:
1. Mendapatkan sesuatu dengan cara yang cepat atau instan.
Iya, alasan ini masih digunakan sebagian orang. Dalam ekonomi yang terdesak atau keadaan tertentu yang sangat gawat, siapa yang tak suka mencari sesuatu yang instan buat memenuhi kebutuhan hidupnya. Mendapatkan sesuatu di sini bisa terkait ekonomi seperti duit seperti kasus koperasi Pandawa, lalu Dimas Kanjeng yang bisa menggandakan uang. Mereka yang tertipu percaya bahwa mereka akan bertambah kaya dengan cepat tanpa harus mengeluarkan banyak duit. Atau pun kalau pun mengeluarkan duit banyak mereka tak masalah karena akan diganti dengan uang yang lebih banyak lagi dan tentunya dalam jangka waktu yang cepat. Hal seperti ini kadang terjadi pada kasus investasi bodong.
Selain itu kasus serupa bisa hadir di penipuan berhadiah, misal kita mendapatkan sms berhadiah dan kita mendapatkan mobil maka kita pun akan berjingkrak – jingkrak kegirangan kecuali kita tahu itu adalah tipuan. Kita senang kita bisa dapat mobil dengan memenangkan undian tanpa membayar sepeserpun. Namun ketika menagih janji ironisnya, kita disuruh bayar ini itu dan akhirnya barang tak kunjung datang.
Contoh kasus lainnya seperti lowongan kerja palsu. Lowongan kerja ini menjajikan gaji besar dan pekerjaan mudah, siapa yang tidak senang dengan hal ini. Namun, ketika kita datang interview dan lolos malah kita disuruh bayar ini itu. Belum sampai situ, ketika sudah kerja pun gaji malah tak kunjung datang. Sudah jatuh ketimpa gajah pula.
Hal ini juga bisa tekait isu kesehatan, di internet kita selalu menemui situs abal – abal yang memberikan info cara mengatasi penyakit parah ini dengan cepat dan mudah. Padahal itu gak terjamin seperti itu adanya bahkan tidak ada penelitian sama sekali dari pihak berwenang. Alhasil ketika kita mengikuti saran itu, yang ada malah tambah parah sakitnya.
Sebagian hal di atas adalah beberapa contoh kasus yang mungkin kita bisa temukan di dunia maya atau nyata.
2. Tidak mengeluarkan biaya mahal bahkan gratis

Sama seperti sebelumnya, hal ini mendorong orang terutama di situasi tertentu untuk mengikuti hal – hal terkait. Mereka yang ekonomi pas – pasan mau gak mau lebih memilih biaya murah dan gratis karena tak punya duit banyak untuk melaksanakan keinginannya. Pada umumnya sering ditemukan di kasus kesehatan, misal mengobati penyakit parah yang membutuhkan biaya banyak. Alhasil ketika ada informasi hoax di internet di mana memberikan solusi mudah bagi penyembuhan penyakit itu tentu akan mudah ditelan mentah – mentah oleh orang yang tidak kritis atau keadaan psikologisnya lagi kurang bagus karena tertekan ini itu sehingga mengambil jalan pintas. Orang ini tak tahu resikonya seperti apa, yang penting baginya bisa mengobati penyakitnya, itupun kalau benar – benar berkhasiat.
Kalau diibaratkan misal pada fenomena heboh tahun 2010 an seperti pengobatan alternatif batu Ponari. Banyak orang berbondong – bondong untuk minta dicelupkan batu milik Ponari ke sebuah wadah air milik mereka. Mereka tertarik karena pengobatan itu gak perlu mengeluarkan biaya mahal pada umumnya, walau pengobatan milik Ponari belum teruji betul. Beberapa kasus ini emang terkait pada keadaan ekonomi tertentu yang membuat mereka mengambil jalan pintas yang cepat dan murah. Hingga sekarang, Ponari sepertinya sudah tak terdengar lagi aktifitas pengobatan alternatifnya itu. Mungkin seperti itulah ketika orang yang tak punya biaya besar akhirnya bisa terjerembab pada kasus – kasus penipuan atau informasi hoax pengobatan tertentu di dunia maya.
Contoh lain terkait penipuan penjualan misal ketika kita ditawari undian dapat smartphone gratis, eh malah diajak ke pembayaran aneh – aneh. Isu murah dan gratis hanya sebgai pemanis promosi, ujung – ujungnya disuruh bayar.
3. Tidak perlu menggunakan persediaan yang lengkap atau aneh – aneh atau sulit dicari
Masih terkait dengan sebelumnya, mereka yang percaya tipuan atau informasi hoax juga didasari ini. Misal ketika kita ingin mengobati orang yang sakit di rumah kita bisa mengobatinya dengan beberapa bahan yang ada. Tak perlu ngambil ini itu atau obat dokter yang mahal atau peralatan medis yang wah. Parahnya tak ada jaminan bahwa dari informasi ini, efeknya akan berhasil atau justru malah merugikan dan menambah parah rasa sakit. Misalnya pada informasi hoax menusuk jarum pada bagian tubuh tertentu yang terkena kelumpuhan akibat pecahnya pembuluh darah. Tentu jika kita tak mengerti seluk beluk medis atau menanyakan pada ahlinya, hal seperti ini bisa berbahaya jika tidak ditangani dengan baik.
Selain itu misal pada kasus jual beli sebuah barang atau calo tertentu yang hadir untuk mempermudah penjualan tiket, perpanjangan surat administrasi dan sejenisnya di mana Anda tak perlu persyaratan ini itu. Cukup bayar mahal atau hampir mahal untuk mendapatkan hal itu, sayangnya yang ada kita yang tekor karena malah mendapatkan pepesan kosong belaka alias kena tipu. Uang dibawa kabur, kita cuma melongo.
Yah, alasan tadi tidak akan bergerak tanpa hal ini yaitu sebuah bentuk pemikiran yang mendahulukan emosi semata dan menurunkan logika. Beberapa sales handal macam sales mlm terus – terus menggunakan konsep ini di mana mereka menawarkan pendapatan yang besar tanpa harus jadi karyawan dan dengan cara cepat, dapat mobil mewah, rumah mewah lalu pergi ke luar negri dengan bergabung agensi mlm mereka. Disisi lain konsep gaya hidup mewah – mewahan atau sukses itu kalau sudah mewah, terus digerakkan agar calon prospek atau downline lainnya tertarik dan mau bekerja giat hingga mendapatkan apa keinginan mereka misal mendapatkan mobil mewah. Mereka menggerakan kenginan dari yang belum terpenuhi di mana seolah menjadi gengsi sendiri jika tak mendapatkannya. Seolah manusia itu masih gak sukses kalau gak punya mobil mewah.
Yah mirip seperti itu, kunci dalam ajakan penipuan baik dunia maya ataupun nyata adalah emosi. Ketika mengetahui struktur dan tujuan dibalik emosi seseorang, maka orang lain dapat mempengaruhinya sesuai dengan apa yang diinginkan oleh orang yang menipu itu. Pada dasarnya emosi mempunyai tujuan dan tujuan akhir emosi adalah sangat logis atau rasional. Untuk itu ketika alasan logis dinonaktifkan, maka emosi yang mengambil alih lebih dominan, begitu pula sebaliknya. Disini orang yang mempengaruhi akan mencari tahu tujuan dibalik emosi itu, kenapa dia menangis atau bahagia dengan begitu akan mudah menyesuaikan. Ketika sudah sesuai maka akan mudah lebih akrab, ketika sudah akrab maka akan timbul saling percaya, dan ketika sudah percaya maka target sudah bisa untuk ditipu.
Pada dasarnya saling percaya didasari kesamaan suatu hal misal ketika ada orang yang gak dikenal suka bola, maka kita harus menyesuaikan dengan wawasan bola yang kita punya. Barulah kita bisa mempengaruhinya untuk membeli kaos jersey bola yang bagus. Dalam hal ini penipu akan mengetahui seluk beluk kesusahan orang yang ditipunya misalnya sulit dapat mobil, ia berpura – pura berbicara seolah bahwa banyak perusahaan yang menyulitkan beberapa orang karena memasang harga mahal pada mobilnya. Sang calon kena tipu pun merasa nyaman dan setuju juga dengan omongannya. Setelah emosi tersentuh barulah penipu melancarkan aksinya.
Contoh lain ialah ketika kita dapat sms atau telpon salah satu kerabat kita kecelakaan dan kita harus mengirim biaya transfer dengan jumlah yang banyak untuk operasi. Disini penipu berusaha membangkitkan emosi negatif pada calon target. Orang yang tidak kritis dan rasional tentu akan lebih emosional menghadapi ini. Ketika mendengar hal sedih ini tentu emosi negatif seperi sedih, takut dan marah akan hadir. Emosi yang menguasai diri itu tak sempat memikirkan kalau ini adalah tipuan. Alhasil orang tersebut mengirimkan sejumlah duit ke penipu itu.
Dari beberapa hal tadi sebenarnya masih ada satu tambahan lagi yaitu kurangnya media sebagai sarana penunjang pengetahuan yang berimbas pada wawasan para masyarakat entah lewat internet, media cetak dan lainnya. Dengan mendapatkan wawasan tentang mana saja yang harus dihindari seperti ketika dalam berbisnis atau berinvestasi, kita harus tahu mana saja yang sekiranya punya niat buruk atau menipu contohnya seperti perusahaan yang tak terdaftar di OJK, nilai investasi gak masuk akal dan lain sebagainya.
Yang bisa kita pelajari dari hal ini adalah jangan percaya atau jangan gunakan jalan yang cepat atau instan untuk menggapai sesuatu, jangan terlalu percaya embel – embel murah dan mudah, jangan mau pula disuruh membayar mahal kepada pihak – pihak yang tidak dikenal, jika ragu hubungi pihak terkait entah lembaga atau instansi berwenang atau perusahaan resmi.
Sekian artikel saya, mohon maaf jika ada kesalahan. Dirgahayu Indonesia, Merdeka!!
Semoga bermanfaat



Tidak ada komentar:
Posting Komentar