Sabtu, 30 September 2017

Diskriminasi Penganut Kepercayaan

 


tirto.id - ZN adalah anak cerdas dan pintar. Semangat belajarnya juga tinggi. Setiap hari, ia mengayuh sepeda onthel dari rumahnya ke sekolah yang berjarak sekitar 12 kilometer. Ia berharap bisa mengejar cita-citanya dengan bersekolah. Sayangnya, impian ZN harus terhenti. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 7 Semarang, Jawa Tengah memutuskan ZN tidak naik kelas XI.

Cerita tersebut dituturkan Sugiarto, ketua RT Pedurungan, Semarang, tempat ZN dan keluarganya berdomisili. "Saya kasihan kalau ZN tidak bisa naik kelas. Anak ini pintar dan baik. Sederhana juga. Berangkat sekolah saja memilih naik sepeda, padahal jarak ke sekolahnya kan jauh," ujarnya seperti dikutip dari Antara.

ZN tidak naik kelas bukan karena dia bodoh. Ia menolak untuk mengikuti pelajaran agama dari salah satu enam agama yang diakui negara, seperti Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Khonghucu. Akibatnya, nilai pelajaran agama ZN kosong.

Penolakan ZN bukan bermaksud membangkang, tapi karena dia adalah penganut aliran kepercayaan, bukan pemeluk dari salah satu enam agama resmi. Sementara pihak sekolah berargumen hanya pelajaran dari enam agama yang diakui pemerintah yang ada di kurikulum.

Argumentasi yang dibangun pihak SMK Negeri 7 ini dinilai bertentangan dengan Undang-Undang (UU). Peneliti The Wahid Institute, Alamsyah M. Dja'far mengatakan, seperti diamanatkan UU Sisdiknas, penyediaan guru agama yang seagama dengan peserta didik merupakan kewajiban pemerintah. Sayangnya dalam implementasinya, penerapannya dilakukan dengan cara yang diskriminatif, khususnya bagi kelompok minoritas agama, termasuk komunitas penghayat kepercayaan.

“Di beberapa daerah, sekolah belum dapat menyediakan guru agama sesuai kualifikasi bagi peserta didik non-Muslim, termasuk komunitas penghayat kepercayaan,” ujarnya pada tirto.id.

Padahal, menurut Alamsyah, merujuk Pasal 32 Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, pendidik kelompok mata pelajaran agama wajib memiliki kualifikasi minimum sesuai dengan jenjang kewenangan mengajar, salah satunya 'latar belakang pendidikan tinggi dengan program pendidikan yang sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan.'

Pasal ini menegaskan pada dasarnya setiap siswa-siswi di Indonesia berhak atas pengajar yang berkualitas dan memiliki kualifikasi sesuai pelajaran yang diajarkan. Di tempat ibadah mereka, masing-masing pelajar memang dapat belajar langsung dengan pemuka agamanya. Namun, regulasi memberi persyaratan yang jelas, setidaknya dua hal. Pertama, memiliki kualifikasi akademik pendidikan minimum D-IV atau Sarjana untuk pendidik pada pendidikan usia dini, SD, SMP, dan SMA. Kedua, latar belakang pendidikan tinggi pada mata pelajaran yang diajarkan.

Apa yang dialami ZN bukan hal baru. Tahun 2012 lalu, voaindonesia.com menulis laporan soal diskriminasi yang dialami oleh 15 perempuan penganut agama asli atau penghayat kepercayaan, salah satunya adalah Dian Yani, penganut agama Sapto Dharmo. Bedanya, Dian mengalami tindakan intoleran dari pemerintah.

Dian dan para penganut aliran kepercayaan lainnya mendapat kesulitan mengurus Kartu Tanda Penduduk (KTP). Akibat tidak memiliki KTP ini, mereka tidak bisa memperoleh surat nikah dan akte kelahiran anak. Selain itu, mereka juga kesulitan mengakses program pemerintah seperti layanan kesehatan dan bantuan ekonomi. Kalaupun ada yang memiliki KTP, maka kolom agama di KTP tersebut harus dikosongkan.

Tak hanya itu, anak-anak mereka ketika mulai bersekolah harus memilih satu dari enam agama yang diakui negara, sama halnya dengan apa yang dialami ZN saat awal mendaftar di SMK Negeri 7 Semarang. ZN terpaksa mencantumkan agama Islam.

Menurut Kepala Sekolah SMK Negeri 7 Semarang, Sudarmanto, saat kelas X, ZN mengikuti pelajaran agama Islam, tapi hanya dalam pelajaran teori, sedangkan saat praktik baca Alquran dan salat, dia tidak bersedia dengan alasan menganut aliran kepercayaan. Nasib ZN berbeda dengan kakaknya yang mengikuti kebijakan sekolah, dan akhirnya lulus dari sekolah yang sama.

“Kakaknya dulu juga bersekolah di SMK Negeri 7 Semarang dan sekarang sudah lulus. Kalau kakaknya menganut agama Islam meski orang tuanya penghayat kepercayaan,” kata Sugiarto.

Kasus yang menimpa ZN dan Dian hanya salah satu contoh yang terekspos ke publik. Sebab, di pojok-pojok negeri ini masih banyak ZN-ZN lain yang mengalami diskriminasi atau intoleransi lantaran berbeda agama maupun keyakinan. Setidaknya hal ini terkonfirmasi dari laporan Komnas HAM, 2015 lalu.

Laporan Komnas HAM tahun 2015 lalu merupakan bukti bahwa masih banyak kasus diskriminasi dan intoleransi hak kebebasan beragama dan berkeyakinan (KBB). Misalnya, pada tahun 2014, Komnas HAM menerima 74 pengaduan terkait pelanggaran hak KBB. Sementara pada kurun waktu Januari-November 2015, pelanggaran hak KBB berjumlah 87 pengaduan. Jumlah ini tentu belum termasuk pelanggaran hak KBB yang tidak diadukan ke Komnas HAM.



 Data Komnas HAM menunjukkan pelaku tindakan diskriminasi dan intoleransi terhadap kebebasan beragama dan berkeyakinan ini sangat beragam, mulai dari pemerintah, ormas, aparat keamanan, maupun individu. Namun, dari data Komnas HAM tersebut, rata-rata pelaku tindakan diskriminasi atau intoleran adalah pemerintah kabupaten/kota.

Dari 87 jumlah pengaduan yang diterima Komnas HAM dalam kurun waktu Januari – November 2015, apabila dilihat dari aspek korban tindak pelanggaran hak atas kebebasan beragama dan berkeyakinan, maka terdapat 7 pengaduan yang datang dari warga penghayat kepercayaan.

Kembali pada kasus ZN, menurut Alamsyah, tidak naiknya kelas karena tidak ikut pelajaran agama merupakan bentuk tindakan diskriminatif. Ini tidak sejalan dengan UU Sisdiknas. Ini juga bertentangan degan Pasal 18 ayat (2) dari International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) yang sudah diratifikasi oleh Indonesia melalui UU no. 12/2005 yang mengatakan bahwa “Tidak seorang pun dapat dipaksa sehingga terganggu kebebasannya untuk menganut atau menetapkan agama atau kepercayaannya sesuai dengan pilihannya.”

Selain itu, praktik yang sifatnya koersif dapat melanggar hak orang tua/wali dalam pasal 18 ayat 4 dari ICCPR bahwa “Negara Pihak dalam Kovenan ini berjanji untuk menghormati kebebasan orang tua dan apabila diakui, wali hukum yang sah, untuk memastikan bahwa pendidikan agama dan moral bagi anak-anak mereka sesuai dengan keyakinan mereka sendiri”.

Baca juga artikel terkait PENDIDIKAN atau tulisan menarik lainnya Abdul Aziz

(tirto.id - abd/nqm) 
 
 https://tirto.id/diskriminasi-penganut-kepercayaan-bwri

Alat propaganda Berunsur Hoax yang Sering Digunakan Saat Ini di Sosmed



Teknologi mungkin sudah maju, namun sayang hal itu tidak diimbangi dengan kemajuan penggunanya dalam menggunakan teknologi. Salah satu masalah seperti ini yang kita temui di sosial media adalah penyebaran masif informasi hoax atau palsu atau bukan fakta. Hoax ini biasanya digunakan sebagai alat untuk propaganda dengan tujuan tertentu misal terkait politik bahkan ujaran kebencian terhadap suku, ras, etnis, agama hingga instansi pemerintahan. Untuk saat ini ada beberapa alat untuk mendukung hal tersebut beberapa diantaranya ialah melalui screenshot website berita, statement atau pernyataan lalu chat palsu. Berikut penjelasanyya

 1. Gambar Screenshot Berita



Seperti judulnya, alat propaganda yang digunakan ialah gambar screenshot dari sebuah website berita. Pada umumnya yang digunakan adalah website kredibel yang terdaftar dalam Dewan Pers yang jadi sasaran, namun tak jarang ada yang memakai website media abal – abal. Kenapa memakai website yang kredibel dan yang terdaftar dalam Dewan Pers, karena target dari pembuat hoax itu untuk ke semua audiens atau orang di sosial media, bukan cuma mereka yang demen baca dari media abal – abal namun juga media yang kredibel, selain itu media kredibel mempunyai tingkat kepercayaan tinggi terkait unsur berita seperti objektifitasnya, kevalidannya (kebenaran faktanya), netralitasnya lalu isi beritanya yang lengkap memenuhi 5 W (what,who,why,when,where) + 1 H (How).
 
Biasanya sang penyebar hoax tidak akan memberi link terkait gambar screenshot website tersebut karena sudah tentu gambar screenshot website berita yang tersedia penuh editan dan sudah tentu tipuan atau hoax. Gambar screenshot media berita ini melingkupi bagian atas dari isi website berita itu yang melingkupi nama media, tanggal rilis berita, judul berita, gambar berita, dan terkadang sedikit tulisan di bawah gambar. Selain itu sang penyebar hoax dan propagandis akan menambahkan kalimat provokatif agar yang membaca bisa terhasut.
 
Cara untuk mengantisipasi hal ini ada berbagai macam, berikut cara – caranya:
 
 
 
1.) Yang pertama dengan mengecek dengan sumber dari berita dan media aslinya, biasanya ketika di search dengan judul berita di gambar screenshot itu malah tidak ada, atau melalui search dari website berita yang dijadikan hoax itu sendiri. Pada dasarnya kita bisa mencari berita asli selama judulnya masih ada unsur yang belum dihilangkan, misal berita terkait polisi, gambar screenshot hoax akan membuat judul tendensius layaknya media abal – abal walau itu dari media kredibel namun akan terasa aneh jika kita mencari kata kunci dan unsur judul yang sama dengan media berita terkait di Google misal Detik.com polisi korupsi, maka akan keluar beritanya baik yang baru atau yang lama, kita sesuaikan dengan tanggal yang ada di gambar screenshot hoax. Nanti disitu kita menemukan berita asli terkait terutama yang punya gambar berita yang sama atau penggalan tulisan yang sama dibawahnya dengan gambar screenshot hoax itu tadi.
 
2.) Selain itu biasanya di postingan terkait ini, jarang dicantumkan link sumber resmi berita karena sang penybar hoax berasumsi kalau hanya dengan screenshot gambar dari berita media kredibel maka orang langsung percaya karena tentu media itu sudah dikenal baik dengan berita kredibel dan valid atau kebenaran faktanya.
 
2. Statement atau pernyataan palsu atau hoax
 

 
 
Alat propaganda statement atau pernyataan merupakan salah satu alar propaganda yang bagus untuk menjalankan misi sang propagandis yang ingin merubah atau mempertahankan sikap, perilaku dan wawasan orang pada umumnya sesuai yang dikehendaki oleh sang propagandis. Pernyataan palsu seperti ini akan semakin disukai dan menarik apabila yang memberi pernyataan palsu itu merupakan public figure ,tokoh adat ataupun tokoh masyarakat. Dalam teknik menggiring opini publik ada yang disebut two step flow yang maksudnya ialah menyampaikan pesan melalui tokoh terkenal atau tokoh masyarakar atau tokoh terkemuka seperti artis atau pemuka agama. Penggiringan opini akan semakin mudah karena sebagian orang tentu masih punya panutan atau tokoh idola bahkan terkadang mereka tak sungkan jika melakukan apa yang diucapkan oleh tokoh yang mereka idolakan dan dijadikan panutan. Hal ini terjadi karena adanya unsur citra baik, terpercaya, berkharisma, rupawan, keren atau suci sehingga mereka bisa dijadikan panutan atau idola karena tingkah lakunya yang baik ataupun mempunyai skill atau kemampuan yang luar biasa seperti berakting atau menyanyi. Alat propaganda macam ini biasanya hadir di sosial media baik dalam bentuk gambar, gambar screenshot dari berita atau dari berita itu sendiri yang tampil di beranda sosial media.
 
 Cara mengantisipasi hoax macam ini adala sebagai berikut:
 
1.) Mencari berita terkait ucapannya di google atau dimanapun itu dan melihat sumber berita yang menayangkan berita itu apakah media kredibel atau abal – abal. Biasanya yang hoax itu banyak hadir di media abal – abal ketimbang media kredibel sehingga ketika kita cari tidak ada satupun yang memberitakannya.
 
2.) Menunggu, menanyakan atau mencari klarifikasi resmi dari tokoh bersangkutan yang diduga di catut namanya dalam postingan hoax. Biasanya tokoh yang tahu ada hoax yang mencatut namanya akan segera mengklarifikasi hal itu entah disampaikan melalui managernya, teman baiknya, tempat mereka bekerja, instansi terkait yang menangani hal ini seperti kepolisian dan sejenisnya yang jelas pihak – pihak terpercaya dan resmi yang menangani kasus ini atau terlibat di dalamnya.
 
3. Chat palsu atau fake chat
 
 
 
Alat propaganda yang ketiga adalah chat palsu yang lagi santer akhir – akhir ini bahkan sudah ada yang dikenai sangsi terkait terhadap pelanggaran ini. Sepintas bagi orang awam di sosial media tentu akan mudah terperdaya dimana ada dua orang berbincang dimana orang itu juga orang yang punya nama baik, terkenal atau berada di instansi terkemuka berbicara tentang hal yang buruk, absurd, sangat gak masuk akal, dan penuh konspirasi di sebuah media chat. Apalagi bisa sampai tersebar di dunia maya, mungkin saja yang seperti itu bisa terjadi dan bisa saja tidak selama ada bukti kuat terkait hal itu. Melalui alat propaganda ini tokoh – tokoh tertentu akan dibuat hilang kredibilitasnya karena membicarakan yang yang buruk dan penuh konspirasi jahat yang ingin merusak keharmonisan, memancing amarah atau memprovokasi pembacanya, menciptakan kekacauan dan tentunya ketidak percayaan terhadap tokoh, instansi, perusahaan, atau kelompok tertentu.
 
Fake chat pada umumnya dibuat melalui aplikasi khusus, dan nantinya sang penyebar hoax akan menggunakannya dimana komunikan (orang yang menerima pesan) dan komunikator (orang yang mengirim pesan) merupakan tokoh terkemuka dan terkenal entah terkait bidang politik, keamanan, ekonomi, sosial, seni dan lain sebagainya, sesuai dengan tujuan sang penyebar hoax dan propagandis. Misalnya ketika kelompok yang dibelanya merasa dizalimi polisi maka ia akan menggunakan tokoh penting dibalik aksi menzalimi itu untuk dijadikan komunikan atau komunikator dari fake chat tersebut. Pesan yang disampaikan dalam fake chat biasanya tak jauh dari kelakuan buruk atau konspirasi buruk yang seolah berencana menindas atau menzalimi kelompoknya. Target dari propaganda ini biasanya yang sepemahaman dengan kelompok yang merasa dizalimi tadi atau orang biasa agar jengkel dan benci terhadap seseorang atau kelompok.
 
Bentuk dari fake chat ini ketika hadir di sebuah postingan di sosial media pada umumnya berbentuk gambar screenshot dari percakapan yang terjadi saat melakukan chat tersebut. Terdapat pesan dua arah atau komunikasi timbal balik dimana terjadi interaksi diantara komunikan dan komunikator itu. Selain itu sang penyebar hoax akan menambahi kalimat provokatif untuk menghasut target propagandanya.
 
Cara untuk mengantisipasi dari alat propaganda ini cuma satu yaitu melalui klarifikasi pihak terkait yang tentunya resmi. Terkadang kasus chat absurd ini gak semuanya kemungkinan fake seperti yang kita lihat pada kasus HRS, namun juga ada yang fake bahkan sang penyebar hoax sudah ditangkap seperti kasus chat palsu polisi yang dilakukan admin muslim cyber army yang saat ini merangsek di tahanan. Tentu sebagai pelajaran mudah – mudahan kasus ini tidak ada lagi. Jempol mu, harimau mu, jika tak berhati – hati maka akan merugikan diri mu.
 
Mungkin sekian yang bisa saya bahas, mohon maaf jika ada kekurangan. Salam damai selalu.
Sumber – sumber pendukung:

Memahami Teknik Propaganda Seruan Mengikuti Pihak Mayoritas ( Jutaan Orang Ikut Demo 212 dan sejenisnya)

 
 
Akhir – akhir ini setelah Indonesia di terpa serangan sentimen SARA yang tak habis – habis menjelang pilkada, ada hal menarik dan absurd yang bisa pahami melalu sudut pandang lain. Kita tahu bahwa sebelum pilkada DKI beberapa orang atau kelompok mengikuti demo yang berseri – seri atau bisa dikatakan masuk dalam 212 cinematic universe. Jika kita lihat mereka akan selalu mendengungkan soal jumlah orang yang mengikuti demo tersebut hingga yakin bahwa demo itu diikuti lebih dari jutaan orang ketika tampil di pemberitaan media. Tidak cukup sampai situ, kasus chat sex Rizieq dan juga pembubaran HTI juga melakukan hal yang sama bedanya mereka mengatakan bahwa pengacara dalam jumlah besar akan hadir di kasus tersebut.
 
Lalu kenapa mereka demen menggunakan propaganda seperti itu?
 
Propaganda Bandwagon atau seruan mengikuti pihak mayoritas merupakan propaganda yang berisi imbauan untuk mengajak khalayak masyarakat untuk bergabung dengan kelompoknya karena kelompoknya mempunyai tujuan baik dan menyenangkan. Selain bergabung juga bisa sekedar mendukung atau cuma menggemari atau bahkan mempunya pandangan yang sama dengan kelompok tersebut. Kunci dari propaganda ini adalah memainkan citra yang baik.
 
Disini propagandis harus turun ke lapangan untuk menjalankan aksinya, tak cuma sembunyi dibalik layar. Teknik ini digunakan untuk meyakinkan target propagandis untuk segera bergabung dengan kelompok tersebut dengan menerima program yang diberikan sang propagandis.
 
Dengan kata lain bahwa propaganda ini merupakan teknik penyampaian pesan yang memiliki implikasi bahwa sebuah pernyataan, gagasan atau produk diinginkan banyak orang atau mempunyai dukungan luas meski tidak dikatakan secara spesifik. Selain itu menggambarkan seolah hal – hal tadi mempunyai unsur yang seolah penting, menarik dan dibutuhkan. Teknik ini berupaya memainkan perasaan atau emosional kelompok sesuai yang dikehendaki sang propagandis. Teknik ini sangat mirip dengan teknik testimoni, namun cara yang digunakan untuk menarik perhatian adalah dengan lebih dahulu membentuk kelompok dan melancarkan himbauan.
 
 
 
Contoh mudah dari propaganda ini ketika kita melihat berita entah lewat media cetak atau sosial media dengan judul, “Jutaan Orang Mendukung Program Anti Korupsi,”, “Lihatlah Semua Orang Mendukung Capres X,”, atau “Ribuan Orang Mendesak agar Pak Anu Ditangkap.”
 
Teknik ini menempatkan target sebagai minoritas, dan agar tidak menjadi minoritas maka ia harus bergabung dengan kelompok mayoritas. Jika ternyata target sudah menaruh simpati, teknik ini dapat meneguhkan atau menguatkan mereka dengan mendemostrasikan mereka bahwa mereka sudah berada di pihak yang benar dan baik bersama dengan kelompok yang mereka taruh simpati itu.
 
Dalam kehidupan nyata misalnya, penggunaan teknik ini bisa kita temukan ketika seorang propagandis menyewa sebuah auditorium, stadion, stasiun radio siaran atau stasiun televisi. Dia membariskan puluhan ribu orang dalam sebuah parade atau kampanye atau acara sejenis lainnya, menggunakan simbol warna, musik, gerakkan dan segala seni dramatis lainnya.
 
Dia akan meminta massa untuk mengirimkan telegram, sms, chat, status atau komentar di sosial media, menulis surat, mengemukakan pendapat dan komentar terkait perbuatannya. Dia menggunakan perasaan kebanyakan orang dengan memasuki kerumunan massa. Dia membangkitkan semangat kelompok manusia, mengikat mereka dengan ikatan ras, etnis, suku, agama, gender, status sosial, profesi, ideologi, kebangsaan dan sebagainya. Disini, propagandis berkampanye untuk mendukung atau menentang sebuah program, kebijakan atau isu – isu tertentu dan menggugah emosi sebagai seorang islam, katolik, hindu, atau protestan, sebagai petani, buruh tambang, ibu rumah tangga atau guru sekolah untuk mengikuti barisan mereka.
 
Dengan teknik ini, segala bentuk kesamaan indah diupayakan, bahkan yang bersifaf menjilat orang banyak sekalipun digunakan untuk menimbulkan dan menghilangkan ketakutan, kebencian, prasangka, bias, keyakinan dan ide yang dianut oleh sebuah kelompok. Emosi ini sengaja diciptakan agar bisa mendorong atau menarik massa agar bisa menjadi anggota kelompok pada suati gerbong (bandwagon).
 
Tema dasar gugahan bandwagon ialah, “orang lain mengerjakan hal itu, maka Anda sebaiknya mengerjakannya juga.” Karena sebagian dari massa tidak ketinggalan, teknik ini bisa sangat berhasil. Namun asosiasi propaganda atau IPA menyatakan bahwa “tidak pernah sangat banyak kerumunan orang bergegas melompat kedalam gerbong, ketika propagandis mengatakan banyak orang masuk ke dalam gerbong (kelompoknya).” Maksud dari pernyataan ini adalah para kerumunan itu tidak semuanya akan bergabung kedalam kelompok yang dipropagandakan sang propagandis apabila menemui faktor tertentu seperti sikap kritis atau rasional.
 
 
 
Pengukuran keberhasilan propaganda ini bisa melalui beberapa hal seperti program yang dipropagandakan propagandis, dan bukti mendukung dan menolak program, apa tujuan yang hendak dicapai apakah kepentingan kolektif atau individu.
 
Terkait fenomena yang marak akhir – akhir ini dalam 212 cinematic universe misalnya dimana mereka yang mendukung, ikut bergabung hingga alumninya yang terus membuat gebrakan yang hebatnya nembus galaksi sebelah, propaganda teknik seringkali digunakan. Tujuannya ialah selain mencari anggota, setidaknya juga minimal mencari orang yang simpati dan tertarik sehingga setuju dan mendukung akan apa yang propagandis lakukan misal demo 212 memenjarakan Mr Ah. Propagandis disini akan menghimbau akan program atau tujuan propagandanya kepada calon anggota atau target propaganda yaitu demonstrasi untuk memenjarakan Mr Ah. Propagandis akan menggambarkan seolah acara itu banyak yang ikut, hal ini akan menggambarkan bahwa acara itu penting dan menarik di kalangan sebagian masyarakat. Semakin banyak yang ikut maka semakin menarik perhatian pula acaranya. Ketika di lapangan nanti, sang propagandis akan mengklaim bahwa acaranya diikuti oleh banyak orang sampai jutaan, terutama ketika masuk ke berita media massa nanti akan menjadi nilai bahwa acara itu banyak didukung dan membuat banyak orang bergabung dan ini nantinya akan membuat pembaca juga tertarik akan demo tersebut dan bergabung atau mendukung tujuan propaganda mereka.
 
Belum selesai sampai situ, sama seperti yang dibahas sebelumnya bahwa ada unsur citra baik dalam tujuannya, propagandis akan menghimbau dan menggambarkan tujuan propaganda atau programnya sangat baik sehingga orang – orang kedepannya akan bergabung atau setidaknya mendukung mereka. Misalnya seperti mengajak untuk berdoa agar Indonesia tak lagi ada penista agama,  lalu tentang keselamatan NKRI, lalu membela ulama, dan tentunya inti acara yaitu memenjarakan Mr Ah.
 
Lalu bagaimana propagandis mengajak agar nantinya orang semakin mendukung gagasan propagandanya?
Seperti tulisan sebelumnya bahwa permainan emosi atau perasaan sangat berperan disini. Ketika di lapangan, sang propagandis dengan lantang menyuarakan pendapatnya yang terbilang provokatif agar bisa memancing emosi negatif menurunkan emosi positif seperti kesabaran seperti amarah dan juga menambah semangat mereka karena sosok yang mereka demo sudah melecehkan unsur keyakinan mereka. Menaikan gengsi dan nama baik, agar tidak diinjak – injak juga meruapakan hal yang didengungkan agar para anggota itu semakin bersemangat.
 
 
Teknik ini juga berlaku di acara event musik, olahraga seperti jalan sehat, dan lain sebagainya. Termasuk kasus HRS dan pembubaran HTI yang menggunakan ratusan atau ribuan pengacara itu.
 
Sekian yang bisa dibahas, salam sejahtera selalu.
Sumber refrensi dan gambar:
 
Shoelhi, Muhammad.2012.Propaganda dalam Komunikasi Interasional.Bandung:Simbiosa Rekatama Media
 
 
 

Survei SMRC: Lebih Banyak Pendukung Prabowo Percaya PKI Bangkit Dibanding Jokowi







JAKARTA, KOMPAS.com - Mayoritas orang yang merasa saat ini sedang terjadi kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI) merupakan pendukung Prabowo Subianto.
Mereka yang meyakini isu kebangkitan PKI itu juga beririsan dengan beberapa pendukung partai politik, terutama Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Gerindra.
Hal itu diketahui berdasarkan survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting terkait isu kebangkitan PKI.

(baca: Survei SMRC: Mayoritas Warga Tidak Percaya Sedang Terjadi Kebangkitan PKI)

Direktur SMRC Sirojidun Abbas mengatakan, hasil survei, sebesar 86,8 persen responden menganggap tidak ada kebangkitan PKI.

Hanya 12,6 persen yang merasa tengah terjadi kebangkitan PKI.
"Kami melakukan tabulasi silang, isu 'sedang terjadi kebangkitan PKI' menurut pilihan Presiden dalam Pilpres 2014," kata Sirojudin dalam paparan hasil survei di Kantor SMRC, Jakarta, Jumat (29/9/2017).
"Maka kelihatan, yang mengatakan setuju sedang terjadi kebangkitan PKI itu kelihatan lebih besar diantara pemilih Prabowo," lanjutnya.

(baca: Wiranto: PKI Masih Dilarang, Sekarang yang Didemo Apalagi Sebenarnya?)

Hasil tabulasi silang menunjukkan 19 persen dari responden yang memilih pasangan Prabowo-Hatta Rajasa dalam Pilpres 2014, menyatakan setuju saat ini sedang terjadi kebangkitan PKI.

Sementara itu, 10 persen dari responden yang memilih pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla dalam Piplres 2014, menyatakan setuju saat ini sedang terjadi kebangkitan PKI.
"Jadi, opini tentang kebangkitan PKI terjadi lebih banyak pada pemilih Pak Prabowo ketimbang Pak Jokowi," kata Sirojudin.
Kemudian tabulasi silang antara isu 'sedang terjadi kebangkitan PKI' dengan preferensi parpol menunjukkan hasil yang cukup tersebar di seluruh parpol.

"Tetapi kalau dilihat proporsinya, maka yang setuju dengan isu 'sedang terjadi kebangkitan PKI' itu terlihat lebih besar diantara pendukung PKS (37 persen), Gerindra (20 persen), dan PAN (18 persen)," imbuh Sirojudin.

(baca: Ngapain Ribut soal PKI, Fokus Saja Ancaman Korupsi dan Intoleransi)

Hanya enam persen massa pemilih Partai Golkar yang setuju dengan isu 'sedang terjadi kebangkitan PKI'.
Survei opini publik ini merupakan CSR dari SMRC. Survei dilakukan terhadap 1.057 responden, dari 1.220 sampel, dengan margin error 3,1 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.

Responden terpilih diwawancarai lewat tatap muka oleh pewawancara yang telah terlatih, dalam periode tanggal 3 - 10 September 2017.

Kontrol kualitas terhadap hasil wawancara dilakukan secara random sebesar 20 persen dari total sampel oleh supervisor dengan kembali mendatangkan responden terpilih.

Dalam kontrol kualitas ini tidak ditemukan kesalahan berarti.

 http://nasional.kompas.com/read/2017/09/29/13332401/survei-smrc-lebih-banyak-pendukung-prabowo-percaya-pki-bangkit-dibanding

SMRC: Yang Percaya Isu PKI, Mayoritas Pendukung PKS dan Gerindra


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Syaiful Mujani Research and Consulting memaparkan hasil survei nasional mengenai Isu Kebangkitan PKI pada Jumat (29/9/2017).

Isu kebangkitan PKI menjadi isu hangat dikalangan masyarakat akhir-akhir ini.
Direktur Program SMRC Sirojudin Abbas mengatakan dilihat latar belakang responden yang dipilihat dari latar belakang responden yang setuju dengan adanya isu PKI dari 2 kelompok partai yang mendominasi yakni PKS 37 persen, Gerindra 20 persen.

"Paling besar dari PKS 37 persen dan Gerindra 20 persen. Golkar hanya 6 persen," kata Sirojudin Abbas.
Sedangkan dari partai lainnya, untuk responden yang berasal dari pendukung PAN, mereka yang setuju dengan isu itu 18 persen, PPP 16 persen, Hanura 17 persen, PKB 11 persen, PDIP 11 persen, Golkar 6 persen, dan lainnya sebanyak 7 persen.

Kemudian, berdasarkan pemilih Pilpres 2014 responden yang setuju adanya kebangkitan PKI menunjukkan 19 persen adalah pemilih Prabowo.

"Opini masyarakat tentang adanya kebangkitan PKI cukup beririsan dengan pendukung Prabowo, dan dengan beberapa pendukung partai politik, terutama PKS dan Gerindra," kata Sirajudin.
Baca: Bapak Amien Rais Akan Mewakili Kita Bicara dengan Pimpinan Dewan
Untuk responden yang setuju adanya kebangkitan PKI dari pemilih Jokowi hanya 10 persen.
Lanjutnya, hal tersebut menunjukkan opini kebangkitan PKI di masyarakat tidak terjadi secara alamiah, melainkan hasil mobilisasi opini terkuat politik.

"Opini terkuat tertentu, terutama pendukung Prabowo, mesin politik PKS dan Gerindra," kata Sirojudin.
Menurutnya, bila keyakinan adanya kebangkitan PKI itu alamiah maka keyakinan itu akan ditemukan secara proporsional di pendukung Prabowo dan Jokowi, di PKS, Gerindra, dan partai lain.

 http://www.tribunnews.com/nasional/2017/09/29/smrc-yang-percaya-isu-pki-mayoritas-pendukung-pks-dan-gerindra

Jangan Pernah Jadikan Film Hiburan Berunsur Sejarah Sebagai Acuan Utama

 
 
Jangan Pernah Jadikan Film Hiburan Berunsur Sejarah Sebagai Acuan Utama
Menjelang tanggal 30 September beberapa pihak seperti biasa akan selalu ada yang menyebarkan isu PKI atau komunis karena berkaitan dengan sejarah pada saat tanggal tersebut. Mirisnya beberapa pihak itu seperti tidak mengenalkan sejarah sesuai kaidahnya namun lebih ke kebencian kepada ideologi komunis itu sendiri dan juga PKI. Tentu kedua hal tadi memang punya sejarah buruk dengan negara ini namun bukan berarti kita tak punya hak untuk mempelajari sejarah secara objektif dan tidak terpengaruh sana - sini. Sayangnya kebencian dan dendam kesumat yang berlebihan itu membuat orang tidak lagi kritis mempelajari sejarah tapi lebih ke mempelajari 'semau gue' tanpa melihat data yang valid dan berbagai sudut pandang.

Parahnya baru - baru ini beberapa pihak seperti ormas dan TNI mempunyai program nonton bareng film G30S PKI dengan alasan untuk menambah wawasan sejarah masa lalu biar tak terulang lagi. Walau sepintas seperti mengajak untuk membenci ideologi komunis atau PKI tersendiri ketimbang mempelajari sejarah secara baik, bukan bermaksud membela komunis dan PKI namun sejarah memang tak bisa dibuat main - main. Sebelum membahas lebih jauh, di sini kita lebih akan membahas film hiburan berunsur sejarah, film yang murni dibuat untuk menghibur orang seperti film horor, drama, action dan lain sebagainya. Sedangkan unsur sejarah di sini seperti melibatkan kejadian bersejarah misal film Rambo 2 yang berseting pada masa perang Vietnam atau Full Metal Jacket atau film yang menceritakan kembali kejadian sejarah pada saat tertentu seperti Pearl Habour atau G30S PKI. Tidak ada masalah sebenarnya jika mau menontonnya.

Namun akan menjadi sebuah masalah apabila film tersebut menjadi acuan utama sebagai menambah wawasan sejarah. Ada alasan - alasan tertentu kenapa tidak bisa menjadi acuan sejarah tertentu:

1. Adanya hal yang dilebih - lebihkan



Dalam film hiburan biasanya demi menarik perhatian penonton unsur dramatisasi atau kehebohan akan dikedepankan bahkan untuk film yang sedikit actionnya. Ketika ada sebuah sejarah tertentu terkadang pembuat film akan menambahkan unsur dramatis, horor, penuh action untuk menambah keunikan film yang diangkat dari sejarah tertentu atau biar tak datar - datar saja dan sayangnya hal inilah yang membuat semakin tidak akurat film tersebut. Belum lagi film hiburan itu dimainkan oleh artis - artis yang memang diarahkan buat lebih dramatis. Dan sudah tentu sebagai penonton yang bijak tidak boleh mempercayai begitu saja apa yang ditampilkan di film hiburan itu apalagi soal wawasan sejarah di dalamnya. Yang ada malah menambah kekeliruan saja.

2. Rentan akan kepentingan propaganda pihak tertentu



Walau saya sendiri tak setuju soal propaganda yang diidentikan dengan tujuan buruk (akan saya bahas di thread lain), saya harus mengakui kalau beberapa kepentingan propaganda di sebuah film berunsur sejarah itu biasanya lebih condong ke tujuan yang kurang begitu bagus dan tentu penuh kepentingan dan tidak objektif. Misalnya seperti beberapa film seting perang Vietnam biasanya menggambarkan Amerika seolah pihak jagoan, yang benar dan bahkan jadi pemenang kayak di film Rambo 2. Tentu jika kita menelisik sejarah dengan fakta yang valid serta berbagai sudut pandang maka akan menyebutkan justru sebaliknya yang terjadi alias Amerika yang kalah. Tidak semua memang namun biasanya seperti itu. Sama seperti film G30S PKI yang sumber faktanya tidak objektif dan mungkin tidak semuanya fakta. Dan sekali lagi hal ini membuat film berunsur sejarah menjadi tidak akurat serta kurang pas menjadi acuan kecuali memang rela dibrainwash.

3. Kurangnya sumber pendukung yang valid yang membuat film berunsur sejarah itu menjadi tak akurat







Hal ini memang kadang terjadi, karena tim produksi mereka mungkin kurang menelaah sumber pendukung sejarah tersebut. Bahkan sumbernya yang sebenarnya diperdebatkan kebenarannya malah diambil karena mungkin itu lebih menjual dalam segi cerita atau memang tidak ada sumber lain yang lebih valid sebagai pendukung karena keterbatasan sumber pendukung itu sendiri. Dan ini tentu menimbulkan ketidak akuratan dalam film tersebut.

Jika kita melihat alasan - alasan tadi, sudah tentu merupakan hal yang buruk apabila mempercayai sejarah berdasarkan film hiburan. Pada dasarnya film itu dibuat untuk menghibur, tentu ada beberapa aspek yang sedikit diubah. Namun untuk mempercayai penuh ada baiknya dihindari. Film itu hanya untuk memancing minat, penasaran, dan tambahan wawasan kecil saja dan untuk mengetahui sejarah sebenarnya ada baiknya bisa membaca buku atau artikel tentang sejarah dan penelitian yang dilakukan oleh pihak yang kompeten seperti Universitas atau lembaga tertentu yang menaungi bidangnya. Walau memang sebagian buku sejarah sendiri sebenarnya juga ada yang mungkin berdasarakan kepentingan propaganda tertentu namun di era keterbukaan informasi ini buku sejara yang lepas dari kepentingan propaganda tertentu juga ada dan bisa menambah wawasan dari sudut pandang yang lain.

Lalu bagaimana dengan film dokumenter berunsur sejarah? Walau memang film dokumenter punya kelebihan dari film pada umumnya yaitu mendatangi langsung sumber pendukung atau narasumber saksi sejarah dan bisa lebih objektif walau yang gak objektif pun mungkin juga ada, terkadang film jenis ini juga ada yang didramatisir sehingga menambah ketidakuratan itu sendiri. Tidak semua seperti itu, walau fungsi media film sendiri ada yang menghibur, mengedukasi serta menambah wawasan, kita sendiri harus bijak menyikapi film itu sendiri. Seperti kaya Wan Hitler, film memang media bagus untuk menyampaikan pesan karena audiens lebih suka menonton dengan sajian suara dan visual yang hebat ketimbang tulisan atau suara semata. Namun ada baiknya kita bisa membedakan aspek hiburan dan sejarah itu sendiri.

Sekian tulisan saya saat ini. Saya sendiri juga penggemar film, walau begitu kita harus tetap kritis akan yang kita tonton. Terakhir, mohon maaf jika masih ada kesalahan. Salam damai untuk semua.

Selasa, 26 September 2017

Soeharto & Tragedi Umat Islam Cara Orde Baru Membungkam Para Ulama



Sebuah tim khusus bergerak ke Aceh pada 1 Mei 1978. Misi mereka adalah membawa ulama paling berpengaruh Aceh, Daud Beureueh, ke Jakarta. Tim itu dipimpin Letnan Satu Sjafrie Sjamsoeddin. Mereka tiba di rumah Daud tak lama seusai salat subuh. Menurut kesaksian Nur Ibrahimy, menantu Daud Beureueh kepada Tempo (2003), tim Sjafrie meminta kesediaan ayah mertuanya ikut ke Jakarta.

“Kami diperintahkan membawa Abu Daud ke Jakarta untuk menjadi saksi di Pengadilan Negeri Surabaya dalam perkara Haji Ismail yang dituding terlibat aksi Komando Jihad,” ujar salah seorang anggota tim. Ketika itu, Teungku Nyak Aisah, istri ketiga Daud Beureueh, sedang berada di rumah ketika suaminya bertemu tim khusus itu.

“Maaf, bukannya tidak bersedia, saya ini sudah uzur. Saya mau bersaksi di sini saja,” ujar Daud yang sudah jelang berusia 79 tahun dan sakit-sakitan. Karena misi harus terlaksana, tim khusus tentu berkeras. Menurut Nur Ibrahimy, mereka lalu memegangi kaki dan tangan Daud Beureueh. Dengan sigapnya, salah satu dari anggota tim menyuntikkan obat bius ke tubuh Daud.

Meski uzur, Daud berusaha melawan hingga jarum suntik pun patah. Nur Ibrahimy mengingat, “darah berceceran dan membasahi baju Abu Daud.” Namun, belakangan, Sjafrie menyangkal kesaksian Ibrahimy.

“Ya, kami yang menjemput beliau,” ujar Sjafrie yang pernah menjadi Wakil Menteri Pertahanan di era Kepresidenanan Susilo Bambang Yudhoyono.

Menurutnya, tak ada kekerasan dan obat bius bekerja seperti yang diharapkan. Ada kekerasan atau tidak, nyatanya Daud pun berhasil dijauhkan dari massa-nya yang besar di Aceh.

Siapa tak kenal Daud Beureueh sang pendiri Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) dan dedengkot DI/TII Aceh. Ulama besar itu pun terbatasi ruang hidupnya, hanya di Jakarta saja. Ketika Daud diamankan ke Jakarta itu, Gerakan Aceh Merdeka (GAM), yang sebetulnya tak direstui Daud, sedang berkobar di Aceh hingga dua dekade setelahnya.

Daud memang tidak setuju dengan GAM yang dibentuk Hasan Tiro. Bukan karena alasan tidak setuju perlawanan dan tujuan kemerdekaan, tetapi karena Hasan Tiro enggan menjadikan syariat Islam sebagai program utama. Bagi Daud, bukan hanya kemerdekaan yang harus menjadi prinsip dasar perjuangan, melainkan juga syariat Islam.

Kendati ada perbedaan dengan Hasan Tiro, akan tetapi Daud Beureueh tetap saja dianggap sebagai ancaman oleh Orde Baru karena terus mengkritik pemerintah. Kritiknya sangat keras, misalnya dalam kasus pembangunan PNG Arun, yang ia anggap tidak memberikan manfaat bagi Aceh selain hanya mengeruk kekayaan Aceh belaka.

Itulah yang membuat Daud dibawa ke Jakarta. Di sana, Daud diisolasi di sebuah rumah di Tomang. Walau pun sudah tua dan mulai sakit-sakitan, namun Orde Baru tidak peduli. Sama seperti perlakuan kepada Sukarno, Orde Baru membiarkan Daud terisolasi dan rumah pengucilan di Tomang pun terus diawasi.

Memenjarakan dan Membungkam Ulama Banten

Tak hanya Daud saja yang diamankan Soeharto. Dari Banten ada Abuya Dimyati yang mengasuh sebuah Pesantren di Cidahu, Padeglang. Jelang Pemilu 1977, sebelum shalat jumat pada 11 Maret 1977, kepada seorang kepala desa, Dimyati mengatakan agar warga desa jangan digiring paksa untuk mendukung salah satu partai Pemilu. Si kepala desa mencoba memobilisir warga desa agar memilih Golkar.

Caranya ia mengatakan “Golkar itu pemerintah” dengan maksud agar masyarakat awam di kampung yang tidak sekolah di Banten dan Jawa Barat memilih Golkar. Abuya Dimati balas mengatakan: “Pemerintah itu RI, bukan Golkar.”

Situasi pun memanas. Akhirnya, menjelang Pemilu 1977, pada 14 Maret 1977, Abuya Dimyati ditangkap  polisi. Dia divonis bersalah dan dihukum penjara selama enam bulan penjara.

Saat itu, kawasan di sekitar kediaman Dimyati di Cidahu dianggap sebagai basis PPP, satu-satunya partai Islam. Menjelang kampanye PPP, pasokan BBM pun distop dan membuat masyarakat kesulitan beraktivitas dan membuat kampanye PPP terancam gagal. Salah satu folklore masyarakat terhadap sosok Dimyati adalah kemampuannya mengubah air yang ada di kolamnya sebagai bahan bakar sebagai respons atas penyetopan BBM itu (Dinamika Peran Sosial Politik Ulama dan Jawara di Pandeglang Banten, Jurnal Mimbar vol. 31 no. 2).

Setelah Pemilu 1977, orang-orang di lingkaran Soeharto begitu risih melihat dalam Pemilu 1977, di mana PPP meraih 29, 3 persen suara. Itulah pencapaian tertinggi PPP dalam seluruh Pemilu di era Orde Baru.

Masa Orde Baru adalah masa di mana ulama “dikebiri” secara sosial maupun secara politik. Ulama harus menerima program-program pemerintah, jika tidak ancaman kekerasan, pengucilan hingga pemenjaraan pun di depan mata. Misalnya dalam soal program Keluarga Berencana (KB) dan Sumbangan Dana Sosial Berhadiah (SDSB). Pandangan banyak kalangan ulama terhadap kedua program pemerintah tersebut tentunya adalah mengharamkannya.

Salah satu ulama lokal yang mengalami tindakan represif adalah Kiai Sarmin dari Banten. Ia juga menerima tindakan kekerasan karena sering memberikan ceramah yang menolak atau menganjurkan warga untuk tidak ikut program KB. Kiai Sarmin menggunakan argumen-argumen keagamaan, dan itu seharusnya sah-sah saja. Namun, hal itu dianggap sebagai perlawanan terhadap Orde Baru (Dinamika Peran Sosial Politik Ulama dan Jawara di Pandeglang Banten).


Pembungkaman Ulama di Kalimantan dan Solo

Jauh di Kalimantan Selatan setidaknya ada Safriansyah alias Kai Amang dan Jamhari Arsyad. Keduanya pegawai Departemen Agama di Amuntai, kabupaten Hulu Sungai Utara sekarang. Keduanya akrab layaknya keluarga. Keduanya punya pengaruh di masyarakat Banjar yang relijius di sana.

“Hulu Sungai Utara itu basisnya Nadlatul Ulama (NU), golongan tua. Kecuali kecamatan Alabio, cabang Muhamadiyah di Kalimantan Selatan. Di Amuntai ada Pondok pesantren tua namanya Rasyidiyah Khaliyadah (Rakha Amuntai) yang dekat dengan figur Idham Chalid [...] yang membidani PPP,” ujar putra Jamhari Arsyad, Muhammad Iqbal, sejarawan dan pengajar sejarah di IAIN Palangkaraya.

Iqbal mengatakan ayahnya adalah kader Idham Chalid yang merupakan tokoh PPP. Aneh jika seorang kader PPP sekaligus tokoh Islam macam Kai Amang danJamhari Arsyad tak dukung PPP dan malah ikut Golkar. Wajar jika mereka tak mau mengikuti ajakan tim sukses Golkar.

“Tiap ada orang yang mengajaknya kampanye, abahku sembunyi di balik lemari,” cerita Iqbal tentang almarhum ayahnya. Setelah Pemilu malapetaka pun terjadi. Kai Amang dipecat. Sementara Jamhari memang tak dipecat dari Departemen Agama, melainkan dimutasi ke Kabupaten Barito Kuala yang terisolir di masa Orde Baru itu.

Marle Ricklefs, dalam Mengislamkan Jawa (2012), mencatat pada akhir 1960an, Abdullah Sungkar, Abu Bakar Baasyir dan beberapa tokoh lain mendirikan radio yang mempromosikan reformasi Islam di Solo. Radio itu pernah menjalin kerja sama dengan Al Irsyad. Sungkar dan Baasyir dianggap berpandangan terlalu keras dalam mengkritik Orde Baru.

Mereka berdua kemudian mendirikan radio secara mandiri, yakni Radio Dakwah Islamiyah Solo pada 1970 dengan melibatkan Abdullah Thufail. Karena dianggap terlalu kritis pada Soeharto, radio ini ditutup secara sewenang-wenang oleh militer pada 1975. Inilah yang mengakibatkan Sunkar dan Ba’asyir kemudian ditangkap dan dipenjara oleh Orde Baru. Setelah bebas, keduanya pergi ke Malaysia.

Tragedi Priok, Amir Biki, dan Abdul Qadir Jaelani

Dari sekian pembungkaman tadi, yang paling memakan korban tentu saja Peristiwa Tanjung Priok, yang makin hari makin ingin dilupakan.

Menurut laporan KontraS, peristiwa bermula dari tindakan Sersan Hermanu, anggota Bintara Pembina Desa (Babinsa) Koja, di Mushala Assa'adah. Ia menyerukan agar poster dan pamflet bergambar yang berisi kecaman kepada pemerintah dicopot dari dinding mushala pada 7 September 1984.

Esoknya, Hermanu datang lagi bersama seorang  kawannya, S. Samin. Dia mencoba melepas pamflet dan poster yang menempel. Karena tak terlepas, air comberan pun digunakan untuk menutupi poster dan pamflet itu. Beredar cerita, Hermanu masuk Mushalla tanpa melepas sepatu. Karena diprotes jamaah, Hermanu pamer pistol.

Tanggal 10 September, Hermanu pun dipertemukan dengan pengurus RW, setelah nyaris diserang warga. Syarifudin Rambe dan Sofwan Sulaeman berhasil menghalangi warga yang hendak menyerang itu. Di hadapan RW, Hermanu yang diminta meminta maaf enggan meminta maaf karena menurutnya dia sedang bertugas.

Ketika pembicaraan berlangsung, seseorang muncul dan berteriak,“bunuh saja, kalau tidak dapat orangnya, bakar saja motornya.” Ketika sepeda motor Hermanu diarak dan hendak dibakar, orang yang meneriakkan hal itu justru menghilang dan hingga kini tidak diketahui siapa orang tersebut.

Karena peristiwa itulah maka M. Noor, Syarifudin Rambe, Syafwan Sulaeman dan Ahmad Sahi pun ditangkap. Mereka ditahan di Markas Kodim 050231.

Warga pun berusaha menuntut pembebasan mereka melalui Amir Biki. Pada 12 september 1984, jam 10.00 Amir Biki mendatangi Laksusda Jaya atas undangan resmi Mayor Jenderal Try Soetrisno. Pertemuan sekitar dua jam dan membicarakan kebijakan asas tunggal Pancasila dan situasi di Tanjung Priok, dan tentu saja soal empat warga Tanjung Priok yang ditahan.

Malamnya, sekitar pukul 20.00 diadakan pengajian di Jalan Sindang. Massa yang hadir hingga  memenuhi gang di sekitarnya. Penceramah menyinggung peristiwa di mushalaa As-Sa’adah dan penangkapan empat orang warga.

Amir Biki hadir. Dia pun memberi ultimatum kepada aparat agar melepaskan keempat jamaah yang ditahan dan segera diantar ke mimbar sebelum pukul 23.00 WIB. Amir Biki sempat menelepon aparat Kodim 0502 untuk menyampaikan tuntutannya, jika tidak massa akan mendatangi Makodim untuk membebaskan empat orang tersebut.

Karena hingga pukul 23.00 keempat warga Tanjung Priok belum juga dibebaskan, massa bergerak. Amir Biki membagi massa menjadi dua kelompok. Satu kelompok bergerak menuju Kodim 0502, satu kelompok ke Polsek Koja. Apa yang terjadi kemudian adalah bentrok tak seimbang dengan para aparat bersenjata.

Jumlah korban yang tewas pun lalu beragam. Menurut pemerintah, dalam laporan resminya yang diwakili Panglima ABRI, Jenderal L. B. Moerdani, menyebut hanya  18 orang tewas dan luka-luka 53 orang. Menurut hasil investigasi tim pencari fakta, SONTAK (SOlidaritas Nasional untuk peristiwa TAnjung prioK), diperkirakan 400 orang tewas, belum terhitung yang luka-luka dan cacat. Menurut Komnas HAM,  24 orang tewas dan 55 orang terluka.

Di antara yang tewas itu terdapat Amir Biki juga. Setelahnya orang-orang macam  AM Fatwa, Tony Ardi, Mawardi Noor, Oesmany Al Hamidy dan Abdul Qodir Jaelani pun juga ditangkap. Mereka-mereka dituduh sebagai penggerak peristiwa Tanjung Priok.  Abdul Qodir Jaelani adalah tokoh Islam yang dihormati di kalangan masyarakat Betawi. Ia menjadi pengajar di kampus Perguruan Tinggi Dakwah Islam. Abdul Qodir kelak mendirikan Partai Bulan Bintang setelah 1998.

Baca juga artikel terkait ORDE BARU atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - pet/zen)



sumber:https://tirto.id/cara-orde-baru-membungkam-para-ulama-ckrP

Film sebagai Alat Propaganda Rezim Penguasa


"Gambar ... termasuk film, punya kesempatan yang lebih baik, dan jauh lebih cepat, ketimbang bacaan untuk membuat orang memahami pesan-pesan tertentu," sebut Hitler dalam Mein Kampf.

Adolf Hitler dan menteri propagandanya, Joseph Goebbels, meyakini bahwa film adalah alat yang sangat potensial untuk menggiring opini publik. Hitler mulai menjabat sebagai Kanselir Jerman pada 1933. Mulai sejak itu, Nazi, melalui Goebbels, mengambil alih industri film di Jerman. Pada tahun yang sama Goebbels mendirikan Reichsfilmkammer (Kamar Film Reich) sebagai lembaga yang melakukan pembersihan film yang "tidak diinginkan" dan membimbing produksi film yang dinilai "berguna".

“Dua film, bagaimanapun, didesain untuk menyalurkan ideologi anti-semit Nazi ke khalayak ramai: Der ewige Jude (Yahudi Abadi [1940]) dan Jud Süß (Yahudi Süß [1940])," ujar Richard Levy dalam Antisemitism: a historical encyclopedia of prejudice and persecution.

Film Jud Süß (1940) yang disutradarai Viet Harlan menceritakan Duke Karl Alexander dari Württemberg memulai pemerintahannya yang berjanji untuk memerintah dengan kesetiaan dan kejujuran. Namun bendaharanya, seorang Yahudi bernama Süß Oppenheimer, membuatnya korup. Warga mengeluh dan mendorong Württemberg ke ambang perang sipil. Dalam film ini Harlan membingkai Süß sebagai orang yang licik dan jahat.

Adolf Hitler dan menteri propagandanya, Joseph Goebbels, meyakini bahwa film adalah alat yang sangat potensial untuk menggiring opini publik. Hitler mulai menjabat sebagai Kanselir Jerman pada 1933. Mulai sejak itu, Nazi, melalui Goebbels, mengambil alih industri film di Jerman. Pada tahun yang sama Goebbels mendirikan Reichsfilmkammer (Kamar Film Reich) sebagai lembaga yang melakukan pembersihan film yang "tidak diinginkan" dan membimbing produksi film yang dinilai "berguna".

“Dua film, bagaimanapun, didesain untuk menyalurkan ideologi anti-semit Nazi ke khalayak ramai: Der ewige Jude (Yahudi Abadi [1940]) dan Jud Süß (Yahudi Süß [1940])," ujar Richard Levy dalam Antisemitism: a historical encyclopedia of prejudice and persecution.

Film Jud Süß (1940) yang disutradarai Viet Harlan menceritakan Duke Karl Alexander dari Württemberg memulai pemerintahannya yang berjanji untuk memerintah dengan kesetiaan dan kejujuran. Namun bendaharanya, seorang Yahudi bernama Süß Oppenheimer, membuatnya korup. Warga mengeluh dan mendorong Württemberg ke ambang perang sipil. Dalam film ini Harlan membingkai Süß sebagai orang yang licik dan jahat.

Baca juga: Film dan Propaganda 

Menurut Propaganda and Mass Persuasion: A Historical Encyclopedia, 1500 to the Present, Jud Süß dinilai sebagai salah satu film propaganda anti-Semit yang paling terkenal dan sukses di Nazi Jerman.

Selain itu, Die Rothschilds (1940) dan Robert und Bertram (1939) juga mengangkat tema serupa. Film-film ini sangat populer sampai terjual 2 juta tiket. Film ini terus dipertontonkan kepada polisi, penjaga kamp konsentrasi, dan tentara SS.

Propaganda Hitler juga tidak lepas dari pembingkaian kejayaan Jerman di bawah partai Nationalsozialistische Deutsche Arbeiterpartei (NSDAP), sebutan resmi partai Nazi. Hitler meminta Leni Riefenstahl untuk menyutradarai film dokumenter reli Nazi di Nuremberg tahun 1933. Hasilnya berupa sebuah film berdurasi panjang berjudul Der Sieg des Glaubens.

Riefenstahl juga menyutradarai Triumph des Willens (1934) yang mengisahkan reli Nazi di Nuremberg tahun 1934. Bedanya dengan Der Sieg des Glaubens, film ini tidak lagi menghadirkan sosok petinggi partai Nazi Ernst Rohm yang sudah disingkirkan oleh Hitler sebelumnya karena disinyalir menyebarkan paham komunis di Nazi.

Selain itu dua fim didesain sebagai alat yang meyakinkan kaum pekerja untuk mengubah haluan dukungan dari Komunis ke Nazi, yakni Hans Westmar (1933) dan Hitlerjunge Quex (1933). Sementara itu Mein Sohn, der Herr Minister (1937) digunakan Nazi untuk merendahkan demokrasi.

Inspirasi Datang Dari Uni Soviet

 

Memang Nazi memusuhi kaum komunis dan sosialis. Namun, penulis buku Nazi Cinema, Erwin Leiser menyatakan salah satu inspirasi Goebbels untuk melancarkan propaganda lewat film justru berakar pada pernyataan pemimpin Revolusi Bolshevik Rusia Vladimir Illich Lenin, “Dari semua karya seni, bagi kami, sinema adalah yang paling penting."

Goebbels juga menyitir film The Battleship Potemkin karya Sergei Eisenstein sebagai film propaganda (tentang Bolshevik) terbaik yang pernah dibuat. "Saya yakin bahwa jika beberapa bioskop memutar sebuah film yang menggambarkan zaman kita yang sebenarnya – dan jika film itu versi Nasional-Sosialis dari Potemkin – semua tiket akan dijual jauh-jauh hari," ungkap Goebbels.

Sebagai usaha menegakkan kuasa yang masih diganggung oleh kaum pendukung Tsar, pemerintah Uni Soviet di bawah Lenin banyak memroduksi film bertema anti-Tsar. Pada 29 Desember 1919 Lenin melakukan nasionalisasi industri film nasional Uni Soviet.

Salah satu sutradara terkenal dari era Uni Soviet ini adalah Lev Kuleshov. Filmnya berjudul The Death Ray (1925) menceritakan serangan yang dilancarkan kaum fasis kepada para pekerja. Film Strike (1925) karya Eisenstein juga menceritakan keresahan pekerja di bawah tekanan burjois.

Uni Soviet Untuk menjangkau para petani di pelosok, Soviet juga menggunakan strategi bioksop keliling. Pada tahun itu ada 3.477 instalasi bioskop keliling dan 863 bioskop permanen.

Sementara itu, usaha-usaha melancarkan propaganda melalui film juga dilakukan rezim Fasis Italia yang dipimpin Benito Musolini. Pada sebuah reli partai Fasis Italia tahun 1936, Mussolini berdiri di depan sebuah spanduk besar yang melahirkan pernyataan terkenal: "Sinema adalah senjata terkuat."

Mussolini mendirikan rumah produksi film Cinecittà pada 1936. Selain itu, lembaga L’Unione Cinematografica Educativa (LUCE) didirikan oleh Mussolini untuk memproduksi materi propaganda dan edukasi bagi masyarakat Italia.

Lembaga LUCE yang bertahan dari 1926 hingga 1943 membuat 2,972 film berita mingguan. Sebagian besar film tersebut berfokus pada Il Duce, kesuksesan militer, dan kemajuan sosial di Italia di bawah rezim fasis.


Dapat diamati bahwa di bawah rezim fasis sinema menunjukkan siapa musuh bersama dan menonjolkan sisi kejayaan rezim yang berkuasa. Dalam sebuah esai berjudul Ur-Fascism, Umberto Eco menjelaskan fenomena ini.

“Para pengikut harus merasa dipermalukan oleh kekayaan dan kekuatan yang ditunjukkan musuh. Namun, (di sisi lain) para pengikutnya diyakinkan bahwa mereka bisa menguasai musuh. Demikian, dengan pergeseran fokus retorika yang terus-menerus, musuh pada saat yang sama dipandang terlalu kuat dan terlalu lemah,” ujar Eco.

Propaganda Orde Baru Melalui Film

Film juga tidak terlepas dari cengkeraman kuasa di Indonesia. Selama masa Demokrasi Terpimpin (1959-1965), Presiden Soekarno memboikot film-film produksi Amerika Serikat (AS) untuk bisa masuk ke Indonesia. Masa-masa itu berakhir kala Soeharto mulai menjabat presiden pada Maret 1967.

Krishna Sen, dalam Indonesian Cinema: Framing the New Order, mencatat pada 1967 tidak kurang dari 400 film AS diimpor. Dekade berikutnya industri film di Indonesia bertransformasi menjadi ke dalam monopoli keluarga Soeharto.

Mulai 1970-an Pemerintah kemudian memproduksi film-film bertema sejarah. Janur Kuning merupakan film dengan bujet besar pertama di Indonesia yang menampilkan sosok Soeharto yang amat ditonjolkan perannya dalam melawan penjajah Belanda di era 1946-1949.

“Mungkin alasan yang paling penting untuk film propaganda Suharto adalah bahwa rezim tersebut merasa bahwa upaya baru diperlukan untuk membenarkan kendali Suharto yang lama dan represif terhadap negara (Indonesia) tersebut,” sebut Sen.

Peneliti sinema Indonesia itu juga mencatat produser Janur Kuning Abbas Wiranatakusumah menganggap akhir 1970-an adalah waktu yang tepat untuk mengingatkan masyarakat, terutama generasi muda yang tidak mengenal gerakan nasional dan tidak mengingat peristiwa 1965.

Narasi film-film tersebut: 'Pak Harto' telah melayani negara Indonesia di masa lalu.

Menurut Sen, legitimasi, baik sebagai presiden maupun jenderal militer, penting bagi ‘The Smiling General’ Soeharto karena di akhir tahun 1970-an mahasiswa mulai melancarkan kritik serius kepadanya. Selain itu kritik terhadap pemerintah Suharto juga cukup luas muncul dari kalangan anggota militer.

Pada 1984 pemerintah memroduksi film Gerakan 30 September. Film ini menceritakan peristiwa gerakan 30 September dan serta merta membingkai anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) dan simpatisannya menjadi dalang tunggal peristiwa tersebut. Film terus ditayangkan setiap malam 30 September melalui saluran televisi.

Baca juga artikel terkait FILM G30SPKI atau tulisan menarik lainnya Husein Abdulsalam

(tirto.id - hsa/zen) 
sumber:  https://tirto.id/film-sebagai-alat-propaganda-rezim-penguasa-cxgY

Alasan Kenapa Orang Mudah Tertipu Hoax Kesehatan, Ekonomi, Lowongan Kerja dan Sejenisnya





Baru – baru ini kita dikejutkan oleh kasus penipuan oleh perusahaan travel umrah yang menipu banyak orang yang sudah bergabung dengan merrka yaitu First Travel. Tentu kejadian ini menjadi pembicaraan hangat karena perusahaan tersebut pernah mendapatkan penghargaan di mana ironisnya orang juga merasa percaya karena hal tersebut yang membuktikan perusahaan itu benar – benar bagus. Tapi uniknya kejadian tersebut bukanlah satu – satunya, sebelumnya kita juga pernah mendengar kasus penipuan Dimas Kanjeng yang bisa melipatgandakan duit bahkan orang yang pendidikannya tinggi pun bisa percaya dengannya. Lalu ada pandawa grup yang merupakan investasi bodong, dan beberapa kasus lain seperi penipuan berhadiah atau penipuan lowongan kerja. Itu masih dunia nyata, dunia maya pun juga sama, banyak informasi hoax yang dipercaya mentah – mentah seperti informasi zat kimia yang gak bagus buat kesehatab pada kandungan barang makanan kemasan tertentu, lalu informasi seputar bahaya angin malam atau apalah itu, lalu yang paling sering cara melakukan perawatan pertama pada orang yang terjatuh di kamar mandi karena pecah pembuluh darah dengan menusuk jarum ke bagian tertentu.

Ya baik dunia maya atau dunia nyata kasus penipuan atau penyebaran hoax masih kita lihat hingga saat ini, bahkan ketika lembaga berwenang memberikan klarifikasi masih saja ada yang percaya dengan tipuan – tipuan tadi. Lalu, kenapa mereka masih ada yang percaya terkait penipuan itu?

Ada tiga alasan kenapa mereka terus – terusan percaya. Tiga alasan itu adalah sebagai berikut:

1. Mendapatkan sesuatu dengan cara yang cepat atau instan.



Iya, alasan ini masih digunakan sebagian orang. Dalam ekonomi yang terdesak atau keadaan tertentu yang sangat gawat, siapa yang tak suka mencari sesuatu yang instan buat memenuhi kebutuhan hidupnya. Mendapatkan sesuatu di sini bisa terkait ekonomi seperti duit seperti kasus koperasi Pandawa, lalu Dimas Kanjeng yang bisa menggandakan uang. Mereka yang tertipu percaya bahwa mereka akan bertambah kaya dengan cepat tanpa harus mengeluarkan banyak duit. Atau pun kalau pun mengeluarkan duit banyak mereka tak masalah karena akan diganti dengan uang yang lebih banyak lagi dan tentunya dalam jangka waktu yang cepat. Hal seperti ini kadang terjadi pada kasus investasi bodong.

Selain itu kasus serupa bisa hadir di penipuan berhadiah, misal kita mendapatkan sms berhadiah dan kita mendapatkan mobil maka kita pun akan berjingkrak – jingkrak kegirangan kecuali kita tahu itu adalah tipuan. Kita senang kita bisa dapat mobil dengan memenangkan undian tanpa membayar sepeserpun. Namun ketika menagih janji ironisnya, kita disuruh bayar ini itu dan akhirnya barang tak kunjung datang.

Contoh kasus lainnya seperti lowongan kerja palsu. Lowongan kerja ini menjajikan gaji besar dan pekerjaan mudah, siapa yang tidak senang dengan hal ini. Namun, ketika kita datang interview dan lolos malah kita disuruh bayar ini itu. Belum sampai situ, ketika sudah kerja pun gaji malah tak kunjung datang. Sudah jatuh ketimpa gajah pula.

Hal ini juga bisa tekait isu kesehatan, di internet kita selalu menemui situs abal – abal yang memberikan info cara mengatasi penyakit parah ini dengan cepat dan mudah. Padahal itu gak terjamin seperti itu adanya bahkan tidak ada penelitian sama sekali dari pihak berwenang. Alhasil ketika kita mengikuti saran itu, yang ada malah tambah parah sakitnya.

Sebagian hal di atas adalah beberapa contoh kasus yang mungkin kita bisa temukan di dunia maya atau nyata.

2. Tidak mengeluarkan biaya mahal bahkan gratis



Sama seperti sebelumnya, hal ini mendorong orang terutama di situasi tertentu untuk mengikuti hal – hal terkait. Mereka yang ekonomi pas – pasan mau gak mau lebih memilih biaya murah dan gratis karena tak punya duit banyak untuk melaksanakan keinginannya. Pada umumnya sering ditemukan di kasus kesehatan, misal mengobati penyakit parah yang membutuhkan biaya banyak. Alhasil ketika ada informasi hoax di internet di mana memberikan solusi mudah bagi penyembuhan penyakit itu tentu akan mudah ditelan mentah – mentah oleh orang yang tidak kritis atau keadaan psikologisnya lagi kurang bagus karena tertekan ini itu sehingga mengambil jalan pintas. Orang ini tak tahu resikonya seperti apa, yang penting baginya bisa mengobati penyakitnya, itupun kalau benar – benar berkhasiat.

Kalau diibaratkan misal pada fenomena heboh tahun 2010 an seperti pengobatan alternatif batu Ponari. Banyak orang berbondong – bondong untuk minta dicelupkan batu milik Ponari ke sebuah wadah air milik mereka. Mereka tertarik karena pengobatan itu gak perlu mengeluarkan biaya mahal pada umumnya, walau pengobatan milik Ponari belum teruji betul. Beberapa kasus ini emang terkait pada keadaan ekonomi tertentu yang membuat mereka mengambil jalan pintas yang cepat dan murah. Hingga sekarang, Ponari sepertinya sudah tak terdengar lagi aktifitas pengobatan alternatifnya itu. Mungkin seperti itulah ketika orang yang tak punya biaya besar akhirnya bisa terjerembab pada kasus – kasus penipuan atau informasi hoax pengobatan tertentu di dunia maya.

Contoh lain terkait penipuan penjualan misal ketika kita ditawari undian dapat smartphone gratis, eh malah diajak ke pembayaran aneh – aneh. Isu murah dan gratis hanya sebgai pemanis promosi, ujung – ujungnya disuruh bayar.

3. Tidak perlu menggunakan persediaan yang lengkap atau aneh – aneh atau sulit dicari



Masih terkait dengan sebelumnya, mereka yang percaya tipuan atau informasi hoax juga didasari ini. Misal ketika kita ingin mengobati orang yang sakit di rumah kita bisa mengobatinya dengan beberapa bahan yang ada. Tak perlu ngambil ini itu atau obat dokter yang mahal atau peralatan medis yang wah. Parahnya tak ada jaminan bahwa dari informasi ini, efeknya akan berhasil atau justru malah merugikan dan menambah parah rasa sakit. Misalnya pada informasi hoax menusuk jarum pada bagian tubuh tertentu yang terkena kelumpuhan akibat pecahnya pembuluh darah. Tentu jika kita tak mengerti seluk beluk medis atau menanyakan pada ahlinya, hal seperti ini bisa berbahaya jika tidak ditangani dengan baik.

Selain itu misal pada kasus jual beli sebuah barang atau calo tertentu yang hadir untuk mempermudah penjualan tiket, perpanjangan surat administrasi dan sejenisnya di mana Anda tak perlu persyaratan ini itu. Cukup bayar mahal atau hampir mahal untuk mendapatkan hal itu, sayangnya yang ada kita yang tekor karena malah mendapatkan pepesan kosong belaka alias kena tipu. Uang dibawa kabur, kita cuma melongo.

Yah, alasan tadi tidak akan bergerak tanpa hal ini yaitu sebuah bentuk pemikiran yang mendahulukan emosi semata dan menurunkan logika. Beberapa sales handal macam sales mlm terus – terus menggunakan konsep ini di mana mereka menawarkan pendapatan yang besar tanpa harus jadi karyawan dan dengan cara cepat, dapat mobil mewah, rumah mewah lalu pergi ke luar negri dengan bergabung agensi mlm mereka. Disisi lain konsep gaya hidup mewah – mewahan atau sukses itu kalau sudah mewah, terus digerakkan agar calon prospek atau downline lainnya tertarik dan mau bekerja giat hingga mendapatkan apa keinginan mereka misal mendapatkan mobil mewah. Mereka menggerakan kenginan dari yang belum terpenuhi di mana seolah menjadi gengsi sendiri jika tak mendapatkannya. Seolah manusia itu masih gak sukses kalau gak punya mobil mewah.

Yah mirip seperti itu, kunci dalam ajakan penipuan baik dunia maya ataupun nyata adalah emosi. Ketika mengetahui struktur dan tujuan dibalik emosi seseorang, maka orang lain dapat mempengaruhinya sesuai dengan apa yang diinginkan oleh orang yang menipu itu. Pada dasarnya emosi mempunyai tujuan dan tujuan akhir emosi adalah sangat logis atau rasional. Untuk itu ketika alasan logis dinonaktifkan, maka emosi yang mengambil alih lebih dominan, begitu pula sebaliknya. Disini orang yang mempengaruhi akan mencari tahu tujuan dibalik emosi itu, kenapa dia menangis atau bahagia dengan begitu akan mudah menyesuaikan. Ketika sudah sesuai maka akan mudah lebih akrab, ketika sudah akrab maka akan timbul saling percaya, dan ketika sudah percaya maka target sudah bisa untuk ditipu.

Pada dasarnya saling percaya didasari kesamaan suatu hal misal ketika ada orang yang gak dikenal suka bola, maka kita harus menyesuaikan dengan wawasan bola yang kita punya. Barulah kita bisa mempengaruhinya untuk membeli kaos jersey bola yang bagus. Dalam hal ini penipu akan mengetahui seluk beluk kesusahan orang yang ditipunya misalnya sulit dapat mobil, ia berpura – pura berbicara seolah bahwa banyak perusahaan yang menyulitkan beberapa orang karena memasang harga mahal pada mobilnya. Sang calon kena tipu pun merasa nyaman dan setuju juga dengan omongannya. Setelah emosi tersentuh barulah penipu melancarkan aksinya.

Contoh lain ialah ketika kita dapat sms atau telpon salah satu kerabat kita kecelakaan dan kita harus mengirim biaya transfer dengan jumlah yang banyak untuk operasi. Disini penipu berusaha membangkitkan emosi negatif pada calon target. Orang yang tidak kritis dan rasional tentu akan lebih emosional menghadapi ini. Ketika mendengar hal sedih ini tentu emosi negatif seperi sedih, takut dan marah akan hadir. Emosi yang menguasai diri itu tak sempat memikirkan kalau ini adalah tipuan. Alhasil orang tersebut mengirimkan sejumlah duit ke penipu itu.

Dari beberapa hal tadi sebenarnya masih ada satu tambahan lagi yaitu kurangnya media sebagai sarana penunjang pengetahuan yang berimbas pada wawasan para masyarakat entah lewat internet, media cetak dan lainnya. Dengan mendapatkan wawasan tentang mana saja yang harus dihindari seperti ketika dalam berbisnis atau berinvestasi, kita harus tahu mana saja yang sekiranya punya niat buruk atau menipu contohnya seperti perusahaan yang tak terdaftar di OJK, nilai investasi gak masuk akal dan lain sebagainya.

Yang bisa kita pelajari dari hal ini adalah jangan percaya atau jangan gunakan jalan yang cepat atau instan untuk menggapai sesuatu, jangan terlalu percaya embel – embel murah dan mudah, jangan mau pula disuruh membayar mahal kepada pihak – pihak yang tidak dikenal, jika ragu hubungi pihak terkait entah lembaga atau instansi berwenang atau perusahaan resmi.

Sekian artikel saya, mohon maaf jika ada kesalahan. Dirgahayu Indonesia, Merdeka!!

Semoga bermanfaat

Memahami Cara Kerja Kampanye Hitam di Sosial Media



Di era informasi modern ini, kita tak bosan – bosannya melihat berbagai macam pesan informasi, baik yang baik ataupun yang buruk. Dalam hal ini biasanya ketika menjelang Pemilu terkait gubernur, presiden dan lain – lain akan hadir bersliweran di dunia maya. Sebenarnya kampanye hitam juga bisa terkait bisnis atau ekonomi ataupun ruang lingkup sosial lainnya yang tujuannya sangat buruk dan berdampak buruk bagi orang yang melihat, mendengar dan membacanya.

Yang akan dibahas disini adalah bagaimana kampanye hitam itu bergerak di dunia maya atau sosial media.
Secara umum yang disebut dengan kampanye hitam adalah menghina, memfitnah, mengadu domba, menghasut, atau menyebarkan berita bohong yang dilakukan oleh seorang calon/ sekelompok orang/ partai politik/ pendukung seorang calon, terhadap lawan mereka. Ini berbeda dengan menyampaikan kritik  terhadap visi dan misi atau program calon tertentu; yang tidak tergolong black campaign.
Contoh kampanye hitam hingga saat ini terkait politik misal Pak Jokowi yang keturunan Cina, lalu isu rush money, duit bergambar logo PKI.

Kampanye hitam sendiri merupakan bentuk dari propaganda bersifat hitam, yaitu propaganda yang dilancarkan secara licik sebagai senjata taktis untuk menipu, penuh kepalsuan, tidak jujur, tidak mengenal etika dan cenderung berpikir sepihak. Propaganda ini tidak menunjukkan sumber yang sebenarnya, bahkan kerap juga menuduh sumber lain yang melakukan kegiatan tersebut. Propaganda ini juga disebut propaganda terselubung. Ibarat menghantam dengan meminjam tangan orang lain, kerap digunakan saat suasana genting atau pada waktu perang menjatuhkan moral lawan.
Lalu bagaimana kampanye hitam itu bekerja, simak penjelasan berikut:
  1. Apa tujuan kampanye hitam?


Sama dengan pengertiannya, tujuan kampanye hitam tak jauh dari menghina, memfitnah, mengadu domba, menghasut, atau menyebarkan berita bohong yang dilakukan oleh seorang calon/ sekelompok orang/ partai politik/ pendukung seorang calon, terhadap lawan mereka. Dalam hal ini tujuan kampanye hitam adalah menanamkan gagasan bahwa pihak yang dimusuhi itu identik dengan hal yang buruk. Selain itu juga memperlemah gagasan, citra, elektabilitas, dukungan dll dari pihak lawan atau pihak yang dimusuhi dalam konteks politik, sosial atau ekonomi dan budaya. Merubah pemikiran orang yang tadinya suka menjadi tidak suka, yang tadinya tidak suka diperkuat semakin tidak suka.
  1. Pesan dari kampanye hitam dan bentuknya


Dalam pesan kampanye hitam, unsur utamanya tak jauh – jauh dari image atau citra, penilaian orang terhadap suatu hal, dan disini ada dua citra yaitu citra baik dan citra buruk. Citra baik digunakan untuk menarik perhatian orang, disukai orang, dicintai orang, dan emosi positif lainnya. Sedangkan citra buruk digunakan untuk dijauhi orang, dibenci orang, dimusuhi orang, dan emosi negatif lainnya.
Para pembuat kampanye hitam akan menggunakan citra buruk sebagai unsurnya untuk melawan para pesaingnya atau pihak yang dimusuhi baik politik atau ekonomi. Lalu bagaimana bentuknya? Bentuknya sebenarnya beragam namun yang sering ditemukan adalah labelisasi dan mengasosiasikan sikap dan perilaku buruk kepada sosok yang dimusuhi.

Contoh yang sering ditemui adalah label – label negatif yang dikaitkan dengan rival atau pihak yang dimusuhi misalnya label antek asing, antek Amerika, Komunis, Yahudi, Syiah, Panasbung, Panastak, Kecebong, Onta, Domba, Ateis, Sekuler, Liberal, Cina, Iran, Rusia, Israel, Radikal dan lain – lain. Sebagai contoh ada sebuah tulisan baik pendek atau panjang dengan judul heboh misalnya Pak Wanahog adalah antek asing Amerika, nama aslinya adalah John Hog lahir di ini itu dan seterusnya. Tak lupa ada foto dimana Pak Wanahog memakai kaos bendera Amerika di negara Amerika.

Disini pihak pembuat kampanye hitam ingin memberikan label buruk ke Wanahog yaitu Amerika, lalu kenapa Amerika. Mungkin karena menurut pemikiran mereka, Amerika adalah negara yang suka menjajah jadi mereka mengkaitkan Wanahog dengan negara penjajah yang seolah Wanahog adalah orang yang berteman dengan penjajah sehingga secara gak langsung Wanahog antek penjajah dan merupakan orang yang buruk sehingga pantas untuk dimusuhi, dijauhi bahkan dibenci walau hoax atau fakta sekalipun.

Contoh lain misalnya Bob Rozoq tertangkap kamera seperti sedang mau mukul orang didepannya. Disini orang akan memasang gambarnya dengan tulisan seolah Bob adalah orang yang kasar. Padahal dia itu sedang menangkap nyamuk. Lalu kenapa terkait dengan kasar, karena orang kasar mungkin identik dengan orang jahat, ketika orang melihatnya, mereka akan gregetan dan jengkel terhadap si Bob sehingga mereka memusuhi si Bob.

Pada dasarnya tulisan mereka berbau kehebohan, provokatif, tendensius, kontroversi, hoax, bahasa yang kurang sopan atau kasar, bahkan berbau sentimen suku, agama, ras , antargolongan atau sara. Padahal mengkaitkan kejahatan dengan sara saja udah salah apalagi provokatif dan hoax.
  1. Siapa targetnya?

Targetnya ada tiga yaitu orang yang sepemahaman dengan mereka atau pro dengan mereka, netral atau tak memihak, lalu yang kontra atau tidak sepemahaman dengan mereka. Pada umumnya target mereka adalah remaja, dewasa mungkin bisa anak – anak, yang tidak bisa berpikir kritis, dan mengedepankan emosional ketimbang logika seperti mereka yang dengan mudah memberi like pada pengemis like karena gambar atau video yang menyentuh hati.
  1. Melalui media komunikasi sosial media apa saja dan penyebarannya?


Media di sosial media seperti facebook, twitter, instagram yang bisa menjangkau luas orang banyak, bahkan termasuk forum internet sekalipun.

Dalam sosial media misal seperti facebook mereka bisa ditemukan dan menyebarkan kampanye hitam baik di beranda atau sebuah grup terutama grup politik terutama terkait kubu atau partai tertentu, agama terutama grup yang radikal dan konservatif, sosial, ekonomi bahkan grup alay sekalipun.

Dalam sewaktu – waktu dalam isu tertentu misal kampanye politik dalam sehari mungkin mereka bisa berkali – kali mengirimkan pesan black campaign ke lebih dari satu atau dua grup. Belum lagi dengan akun kloningan yang banyak. Biasanya mereka akan menggunakan nama akun yang terlihat religius, alay atau mungkin terlihat identik dengan kubu yang dibelanya misal tambahan nama calon, parpol dukungannya. Dengan gambar profile picture yang terlihat religius, ganteng, cantik, terkadang absurd atau logo parpol atau nomor calon yang didukungnya agar dapat menarik perhatian. Siapa yang gak tertarik dengan penampilan alim, ganteng dan cantik. Biasanya ada akun yang baru dibuat untuk memblow up isu – isu tertentu pada waktu tertentu, alias bukan akun yang seolah lama.

Terkadang yang dishare juga berberuk situs abal – abal yang tidak kredibel dengan judul dan tulisan artikel yang provokatif atau berunsur hasutan kebecian, tendensius, heboh, dengan bahasa kasar dan tidak sopan dan tidak beretika.

  1. Efek yang diharapkan.


Efek yang diharapkan tentunya dengan citra buruk tadi orang akan menjauhi, membenci, memusuhi dan dalam tahap aksi orang akan menolak pihak yang dimusuhi jika pergi ke kawasan mereka, tidak mencoblos calon yang dimusuhi, tidak memberi dukungan dan beralih ke calon lain, tidak menggunakan atau membeli karena produk tersebut tidak aman atau tidak memenuhi aturan atau perusahaannya ternyata dipimpin oleh yang beda keyakinan dan lain sebagainya.

Topik tentang kampanye hitam sendiri bisa berubah – ubah tergantung situasi dan kondisi. Ada yang murni membangun daari awal, ada juga yang menggunakan kebencian masyarakat yang sudah ada sebelumnya. Misalnya sebelumnya kebencian terhadap Amerika Serikat yang memborbardir Suriah dan sebelumnya Irak. Lalu sekarang ada Cina yang identik dengan pekerja ilegal yang diduga mengganti pribumi atau membeli aset – aset bangsa. Siapapun yang dikatakan antek Amerika dan Cina maka akan dicitrakan negatif. Hal ini juga tak lepas dari sebagian masyarakat yang tidak punya wawasan luas dan tidak berpikir terbuka dan berpikir kritis dan mengedepankan emosional semata sehingga mudah terpengaruh oleh kampanye hitam.