Jumat, 12 Januari 2018

Belajar Tidak Menggeneralisir dari Film Trilogi Planet of the Apes




Baru - baru ini, dunia industri film kembali dihentakkan oleh beberapa film baru seperti Spider-Man:Homecoming, Dunkirk lalu yang terbaru ada salah satu sekuel franchise film terkenal yaitu War for Planet of the Apes. Film yang mengkisahkan tentang perjuangan para monyet pintar ini bukan hanya menyajikan cerita yang bagus dan dramatis, lali action, special effect dan visual effect yang bagus namun juga pesan moral yang bisa diambil buat penontonnya. Salah satunya tentang bagaimana bersikap bijak terkait masalah yang dapat menimbulkan konflik. Di mana masalah itu berawal dari sikap menggeneralisir.

Jika kita hubungkan dengan dunia nyata, hal ini mirip dengan konflik terkait sentimen sara, antar kelompok tertentu, dan lain sejenisnya. Salah satu penyakit sosial itu disebut stereotype atai sifat menggeneralisir dan mengidentikan hal - hal negatif terkait suku, etnis, ras, agama, gender dan lain sebagainya.

Kenapa sifat menggeneralisir sangatlah buruk buat kehidupan manusia?

Karena sudah jelas bahwa sifat menggeneralisir bisa menimbulkan keselahpahaman lalu berimbas pada ketakutan dan kebencian berlebihan dan akan lahir sebuah konflik antar kedua kubu atau lebih. 

Jika kita melihat yang terjadi di Planet of Apes dari Rise, Dawn ke War, sang pemimpin Caesar mengalami proses perkembangan terkait pemikirannya di mana yang menganggap manusia sumber masalah lalu menganggap bahwa tidak semua manusia itu sumber masalah ada yang baik ada yang buruk bahkan termasuk anggota kerajaannya yang juga mempunyai sifat baik seperti Maurice lalu yang bersifat buruk seperti menggeneralisir kalau manusia adalah sumber masalah sesungguhnya seperti Koba. Imbasnya seperti yang terjadi di Dawn bahwa karena kebencian berlebihan Koba kepada manusia membawa para kerajaan kera ke arus konflik yang lebih besar terhadap manusia. Yaitu berperang dengan para tentara. Jika saja Koba tak mengandalkan sifat generalisir mungkin konflik ini bisa diminimalisir. Image kerajaan kera yang dipimpin Caesar menjadi buruk karena salah satu prajuritnya yang egois.

Sama halnya dengan dunia nyata, hitler yang menggeneralisir seolah yahudi itu seperti tikus yang menggerogoti kota dalam artian kelompok manusia rakus yang menggerogoti ekonomi negara, lalu anggapan Islam itu teroris padahal tidak semuanya seperti itu, lalu anggapan bahwa kulit putih itu rasis, kulit hitam itu kriminal, etnis Cina itu sombong dan rakus dan beberapa kasus lainnya serupa yang sebenarnya menjadi titik awal dari sebuah konflik tentu bisa dihindari jika kita bisa menghindari sifat menggeneralisir atau stereotype itu.

Yang kita bisa pelajari juga adalah bagaimana kita mengatasi sebuah masalah secara dewasa, bijak, rasional/empiris dan kritis. Di mana masalah itu jika tidak diatasi dengan baik malah menimbulkan konflik yang lebih besar seperti yang pernah terjadi sebelumnya di Indonesia seperti konflik sektarian, suku dan lain - lain.

Seperti yang kita lihat di film Dawn di mana Caesar berpikir terbuka dan mendahulukan dialog tanpa kekerasan walau pada awalnya sedikit alot namun bisa membangun kembali hubungan baik manusia dan kera walau sayang Koba akhirnya merusak itu semua.

Sama seperti itu jika kita bisa berpikir terbuka, tidak mengedepankan kekerasan dan juga dendam membara, melakukan dialog persuasif untuk membangun hubungan baik kembali dan perdamaian. Tentu konflik dan kerusakan bisa dicegah dan juga tanpa harus hadir korban jiwa yang merugikan banyak orang.

Intinya ketika hadir sebuah masalah terkait sentimen sara alangkah baiknya tidak mengedepankan kebencian, amarah, dendam dan permusuhan. Jangan sampai menggeneralisir kubu lawan atau siapapun itu. Tetap sabar dan berpikir dewasa, utamakan persuasif bukan koersif atau represif. Dengan begitu hal - hal buruk bisa diminimalisir demi terciptanya perdamaian.
Bentuk Kampanye Hitam yang Harus Diwaspadai di PilPilres 2019



Masih ingatkah dengan Pilgub DKI 2012, PilPres 2014, dan yang terakhir Pilgub DKI 2017? Yah, pemilu yang banyak diserang berbagai kampanye hitam atau kampanye yang melanggar aturan dan melanggar etika norma masyarakat karena menggunakan serangan isu diskriminasi suku, ras, agama,  antargolongan dan sebagainya, berita palsu atau hoax dan penuh dengan pesan provokatif atau hasutan kebencian. Pada umumnya, kampanye yang baik tentu menggunakan visi, misi, prestasi serta rekam jejak calon yang bersangkutan, di luar itu pun sebenarnya boleh - boleh saja asal tak melanggar aturan misal kampanye menggunakan popularitas dan kegantengan seperti para artis yang mendadak jadi calon pemimpin daerah setempat. Tentu kita tak bisa memaksakan seseorang menjadi pemilih rasional (lewat visi, misi, prestasi dan rekam jejak kerja sang calon pemimpin), pemilih emosional (lewat popularitas, kegantengan, kecantikan, sopan santun, ketegasan, keramahan, kesamaan agama, suku, dan sejenisnya) dan pemilih gabungan antara rasional dan emosional. Namun tentu yang namanya kampanye hitam sebisa mungkin wajib dijauhi karena efeknya bisa lebih buruk dari itu misal kebencian yang berlebihan, merusak tali silaturahmi, gak bisa move on terus dendam hingga jangka waktu yang lama dan prasangka buruk yang terus menerus kepada pendukung dan pemimpin yang didukung.

Kalau kita melihat kenapa pasangan Jokowi Ahok bisa menang di pilgub DKI 2012 dan Anies yang menang di pilgub 2017, itu karena mungkin di DKI sebenarnya lebih banyak pemilih emosionalnya ketimbang rasionalnya. Jokowi Ahok berhasil menang karena mengkombinasikan rasional dan emosional dan meraih suara pemilih dua kubu dan juga gabungan antara dua kubu itu, mereka yang emosional tersentuh dengan isu populis atau merakyat seperti pemimpin baik yang tak gengsi turun ke lapangan dan ke setiap kampung penduduk untuk mengetahui permasalahan mereka tanpa harus menjelekan pemimpin sebelumnya. Di sisi lain hal tersebut juga diimbangi dengan visi dan misi kampanye serta janji politik yang kreatif dan visioner dengan mengedepankan kerja nyata yang harus diakui sebagian janjinya emang menjadi nyata. Sedangkan pertarungan pilgub DKI 2017, murni pertarungan kubu yang rasional vs kubu yang emosional. DKI Jakarta sebelas dua belas dengan Jawa Barat di mana pemilih emosional jauh lebih banyak dari rasional. Kubu emosional pendukung Anis terus berkampanye akan standar memilih sesuai agama dan alhasil Anis pun menang karena para pemilih emosional yang banyak itu memilihnya dengan isu agama. Di sisi lain tak ada masalah akan hal itu, namun yang bermasalah ketika beberapa orang menyebarkan kampanye hitam yang membuat sebagian pemilih takut untuk memilih si itu atau si ini. Hal ini sebenarnya juga terjadi di Pilgub DKI 2012 dengan isu ibu Jokowi non islam atau calon pemimpin yang wakilnya non islam dan etnisnya Tionghoa yang seolah dikaitkan dengan stereotype buruk. Namun hebatnya, mereka masih bisa menang, kejadian yang sama juga terjadi pada Pilpres 2014 di mana sang calon pemimpin dihujani berbagai bentuk kampanye hitam namun kembali masih bisa memenangkan pertarungan politik itu.

Untuk itu, agar kejadian serupa tak terulang, saya harap tak ada lagi kampanye hitam dan kalaupun ada kita bisa mencegahnya dengan baik. Namun sebelum membahas lebih jauh, mari kita bedakan sedikit antara kampanye hitam dan negatif. Kampanye hitam sudah dijelaskan sebelumnya adalah kampanye yang menggunakan isu diskriminasi sara, hoax dan pesan provokatif atau hasutan kebencian. Kampanye negatif merupakan kampanye menggunakan fakta - fakta yang dan cenderung fakta buruk diluar konteks dia sebagi calon pemimpin. Misalnya samg calon pemimpin pernah selingkuh dengan seorang pejabat wanita hingga membuatnya bercerai dengan istrinya, nah ini bisa masuk dalam kampanye negatif. Sedangkan ketika pihak lawan membalas kempanye pesaing dengan mengeluarkan data - data fakta di lapangan seperti kelangkaan bbm, daging atau kenaikan harga listrik untuk menyerang pesaing yang kebetulan incumbent, ini masih bisa ditolerir selama datanya fakta dan asli dan bukan hoax. Jika hoax maka ini menjadi kampanye hitam karena hanya menyebarkan kebohongan belaka untuk mencari simpati dan memancing amarah dan kebencian kepada sang pesaing.

Nah, kita sudah mengetahui beberapa hal simpel tadi terkait kampanye politik. Sekarang mari membahas bentuk kampanye hitam yang mungkin akan hadir di pilpres 2019.

1. Isu pribumi dan non pribumi



Sebagian pihak terutama kubu lawan yang selalu kontra dengan sang pesaing yang kebetulan incumbent akan terus menggunakan ini selama ada calon pemimpin pendamping dari sang pesaing mungkin dianggap non pribumi oleh mereka misal seperti keturunan etnis atau ras yang bukan asli misal keturunan Tionghoa atau kaukasian (bule) walaupun sudah berwarga negara Indonesia dan bahkan sudah menetap sangat lama di Indonesia. Tuduhan ini didasarkan karena nantinya mereka takut kepetingan politik akan dikuasai oleh negara asing yang berhubungan erat sang calon non pribumi itu. 

Isu ini sejatinya sudah dimulai sejak jaman Belanda dulu untuk membedakan status sosial dan mungkin juga untuk memecah belah dan sebagai politik kepentingan pada situasi tertentu. Di mana pribumi atau penduduk asli atau lokal dikategorikan dengan manusia rendahan setara hewan anjing yang tidak bisa masuk ke wilayah tertentu. Sedangkan  non pribumi dikategorikan penduduk dengan status lebih tinggi dan mendapat kemudahan ke mana saja. Tentu hal ini menjadi gesekan sosial yang mana membuat penduduk lokal menjadi iri bahkan benci dengan non pribumi itu. 

Dan sekarang, ada kelompok fasis chauvinist yang kadang bangga dengan label pribumi, ironisnya padahal label ini merupakan pemutus jembatan persaudaraan karena ada stereotype buruk yang menempel di label tersebut misalnya seperti non pribumi yang tentu dikaitkan dengan etnis tertentu dan selalu bertindak jahat. Padahal yang namanya manusia, bisa melakukan baik dan buruk tanpa dibatasi agama, suku, ras, agama dan lain - lain. Jika ada yang menggunakan itu, maka hal tersebut tak jauh - jauh dari kepentingan politik sama seperti yang  Belanda lakukan dulu. Mereka juga menggunakan strategi era kolonial, bedanya yang lebih tinggi dan baik di sini pribumi sedangkan yang rendahan, jahat dan buruk adalah non pribumi.

Namun bagaimana kita bisa tahu mana yang pribumi dan mana yang non pribumi? Gampang, simpelnya kita cari tahu para kelompok yang menggunakan isu ini mendukung partai atau calon presiden dan wakil yang mana. Nah jika sudah tahu, maka non pribumi atau pribumi akan dinilai sesuai hal tersebut, misal yang sering mengeluarkan kampanye hitam pribumi non pribumi adalah pendukung partai x dan capres X, maka seseorang akan dilabeli pribumi apabila sepemahaman dengan mereka yaitu mendukung partai x dan capres x. Kampanye ini disebarkan agar orang tak mau memilih calon pemimpin yang bukan etnis asli, tak peduli dengan pribumi dan pro kepada negara non pribumi yang diduga berhubungan dekat denga calon pemimpin yang dituduh non pribumi itu padahal tak ada kaitan sama sekali. Padahal soal pribumi ini, masyarakat adat atau kalau disini seperti penganut kepercayaan lebih pantas karena dari dulu sampai sekarang masih tetap melestarikan adat leluhurnya. Uniknya, mereka sendiri tak koar - koar soal pribumi, karena bagi mereka manusia itu dinilai dari perbuatan buruk dan baik, bukan pribumi dan non pribumi.

Target dari isu ini biasanya masih sekitar kelompok golongan tertentu yang berpandangan fasis chauvinist(nasionalisme ke arah yang buruk yaitu menganggap negara atau etnis lokal asli jauh lebih baik dan tinggi derajatnya dari yang lain) baik relijius dan non relijius, karena biasanya yang menyuarakan ya kelompok golongan tertentu misal ormas x dan semacamnya. Tak semua warga mengerti soal ini, karena itulah oknum - oknum tertentu menyebarkan isu ini agar mereka yang tak tahu menjadi ngerti soal ini apalagi ketika memasuki masa kampanye. Biasanya yang paling mudah dicekcoki adalah mereka yang sulit berpikir kritis, emosional (mengedepankan emosi ketimbang rasional dan logika), fanatik akan etnis dan agamanya dan lain sebagainya.

2. Isu Cina



Isu ini dari dulu sampai sekarang masih sangat terkenal buat kampanye hitam. Isu ini masih berkaitan langsung dengan isu pribumi dan non pribumi cuma lebih spesifik. Sama seperti sebelumnya, para penyebar kampanye hitam akan menilai manusia bukan dari perbuatan baik dan buruk tapi dari etnisnya. Jika dia etnis Tionghoa atau Cina, maka akan dianggap manusia yang licik, penindas, sombong, angkuh, kaya, pelit, diskriminatif terhadap pribumi dan semacamnya. Sedangkan non Tionghoa tentu sebaliknya, baik, posisi yang dizalimi, rendah hati, sopan, murah hati dan lain sebagainya.

Untuk saat ini, tuduhan ini melebar dari yang stereotype etnis berdasarkan generalisasi sikap dan perbuatan merembet pada kelompok - kelompok yang punya kepentingan buruk tertentu. Misal tuduhan antek kelompok 9 Naga yang diidentikan sebagai penguasa ekonomi Indonesia yang ingin menguasai Indonesia dari beberapa aset yang ingin diincarnya yang diduga agar pribumi tak bisa berkuasa dan menyelamatkan negaranya. Lalu juga ada isu tenaga kerja dari RRC atau negara Cina yang selalu dikaitkan dengan tuduhan antek cina. Tenaga kerja ini bukan cuma yang ilegal tapi juga yang legal, namun yang membuat semakin parah adalah maraknya hoax yang menyertainya. Yang harusnya angkanya tidak sebesar itu akhirnya dibuat menjadi sangat - sangat besar bahkan tak masuk akal sebenarnya sehingga kalau kita lihat di berita sosial media seolah ada invasi tenaga kerja asing atau Cina yang siap mengambil tenaga kerja lokal. Padahal berita itu hanya hoax semata, mungkin sebagian ada yang asli di mana ada pekerja ilegal namun tak sebanyak itu dan itupun langsung ditangani oleh pihak terkait seperti lembaga ketenagakerjaan dan imigrasi agar kejadian serupa tak terulang kembali. Tak cukup sampai situ, beberapa bulan sebelumnya kita juga sering kedapatan info hoax beras palsu dari Cina, cabe dari Cina yang seolah membawa bakteri padahal bakteri itu sudah pernah muncul sebelumnya di Indonesia dan lain sebagainya yang menggambarkan produk Cina itu jelek dan buruk, namun bukan itu tujuan sebenarnya. 

Jika kita pahami hal - hal tersebut dari stereotype etnis Cina hingga hoax produk palsu dari negara Cina, tuduhan itu hanya semata - mata kampanye hitam untuk menjatuhkan sang calon presiden dan bahkan ketika calon tersebut sudah jadi presiden. Seperti tuduhan antek Cina, Jokowi keturunan Cina yang sebenarnya hoax, tuduhan yang berisi pesan seolah sang calon penuh kepentingan Cina, keturunan etnis yang identik dengan sifat negatif, atau lembek dengan serangan Cina dalam berbagai bentuk atau rela menjadi budak negara aseng yang kadang ditujukan ke negara Cina atau RRC

Mengingat ini hanya cara untuk meraih suara politik melalui tendensi gesekan sosial yang sudah hadir di masyarakat, maka sama seperti sebelumnya bahwa tuduhan seperti ini hanya berlaku pada siapa yang menyebarkan isu ini, mendukung partai dan calon pemimpin yang mana. Misal penyebar isu pendukung partai z dan capres z, maka kalau suatu saat nanti ada calon etnis Cina dari kubunya, maka status tuduhan seperti antek Cina akan hangus.

Target dari kampanye ini ialah para warga, khususnya menengah ke bawah atau rakyat kecil yang emosional dan merasakan gesekan sosial seperti iri terhadap mereka yang kaya ditambah beretnis Tionghoa, bekerja dengan jabatan kecil pada etnis Tionghoa dan semacamnya dengan begitu propaganda anti Cina ini berusaha memancing emosi dan amarah mereka sehingga mereka mempunyai pandangan bahwa orang Cina itu tidak adil. Selain itu juga berkutat pada ormas atau kelompok fasis chauvinist karena kampanye ini memang terus dikobarkan diantara mereka. Selain itu tentu juga warga pada umumnya yang sulit berpikir kritis dan emosional (mengedepankan emosi ketimbang logika dan rasional), mereka yang mudah tersulut emosi, fanatik terhadap etnis dan agamanya atau biasa disebut etnosentrisme(sikap yang menganggap budaya, suku, etnis, agama dan lain sebagainya lebih baik dari yang lain sedangkan diluar mereka itu lebih rendah) dan primordialisme (kecintaan berlebih terhadap budaya, suku, agama, etnis dan lain - lain), dan terakhir tak bisa menyikapi masalah secara bijak akan mudah terpengaruh isu ini.

3. Isu Komunis



Sama seperti sebelumnya, isu kampanye hitam ini masih sangat populer hingga saat ini. Bahkan belum lama ini sedang heboh demo di kantor lembaga kemanusiaan yang diduga menyebarkan komunisme padahal sebenarnya tidak. Bahkan sempat ada gerakan menonton bareng film yang sudah lama tak ditayangkan yaitu G30S PKI karena dianggap film yang bisa mengenalkan sejarah pada generasi penerus walau sebenarnya kurang pas jika dipertontonkan kepada anak kecil. Pada pilpres 2014 lalu bahkan hingga saat ini Jokowi terus dituduh antek komunis hingga menyerempet ke orang tuanya, bahkan saking ngototnya mereka yakin itu adalah asli padahal sebenarnya ya hoax. Ya ini adalah buah kampanye hitam hoax yang terus dikobarkan di forum - forum tertentu dan tak ada berita klarifikasi terkait hal itu, kalaupun ada biasanya juga gak dipercaya karena sudah saking bencinya. Kebohongan yang diucapkan terus menerus akan dianggap menjadi kenyataan oleh para pembacanya.

Mengapa isu komunis ini begitu sangat disukai penyebar kampanye hitam, di sisi lain banyak orang membenci komunis?

Dalam konteks Indonesia mungkin ini masih terkait tragedi 65 lalu dimana ulama dan santri pernah dibunuh oleh para pemberontak PKI di sebagian wilayah tertentu. Imbasnya para anggota PKI atau siapapun yang berideologi komunis akan dicap atheis (orang yang tak beragama) karena membenci ulama dan santri. Disitulah para kelompok - kelompok tertentu pada umumnya yang berbasis agama yang sangat konservatif dan juga radikal terus mengobarkan propaganda komunis. Mereka yang berdiskusi soal pemikiran marxist padahal marxist ini gak cuma komunis, lalu liberalisme, sekularlisme, feminisme akan terus dikepruk tanpa ampun oleh ormas tertentu. Padahal yang dibicarakan belum tentu komunis atau soal penyebaran komunis. Begitu pula dengan kelompok aktivis HAM yang berdiskusi soal tragedi 65 itu bukan berarti mendukung PKI apalagi menyebarkan komunis namun mengeluruskan sejarah Indonesia yang masih banyak bolongnya dan penting untuk sejarah Indonesia sendri karena selama ini mungkin saja masih ada kepentingan - kepentingan tertentu di dalamnya. Soal aksi pembubaran itu sendiri, ini didasarkan kepada ketakutan berlebihan yang membuat sikap kritis mereka para kelompok yang suka mensweeping itu menurun dan hanya patuh kepada atasan, panutan dan idola. Belum lagi panutan mereka juga terus - terusan memberikan propaganda ini kepada bawahannya dan menyebar ke seluruh anggota. Anggapan bahwa panutannya itu tak pernah salah bak dewa membuat mereka yakin bahwa yang diucapkannya itu benar, suci, tak mungkin buruk dan harus dilakukan. Padahal yang namanya manusia ya gak sesempurna itu. Makanya sangat penting untuk mencari panutan baik dan bijaksana, bukan tukang rusuh dan provokator, kedewasan umat manusia dinilai dari seberapa bijaknya ia menyikapi masalah.

Kembali ke kampanye hitam lagi, siapapun calon yang dituduh PKI atau antek PKI makanya secara gak langsung akan dicap sebagai perongrong kekuasaan atau pemberontak negara, selain itu juga pembenci ulama dan santri, dan juga atheis atau orang yang tak beragama, ketika orang dituduh tak beragama maka secara gak langsung dituduh tak bermoral dan senjata inilah yang membuat para oknum tertentu agar mengajak warga tidak memilih pemimpin yang tak bermoral walau ajakanya itu berisi unsur hoax dan provokasi.

Target dari kampanye ini adalah para warga apapun status sosialnya, pada umumnya yang lebih relijius, tak mampu berpikir kritis serta emosional. Namun uniknya sebenarnya gak semua warga ngerti soal PKI oleh karena itu ormas fasis chauvinist dan relijius konservatif terus menggembar - gemborkan isu ini, bahkan sebenarnya yang paling ngerti soal kampanye hitam berunsur PKI ya dia. Bahkan ketika pemutaran film G30S PKI banyak anak dan warga lain yang baru tahu seolah baru ngeh ada kejadian seperti itu yang sayangnya filmnya sendiri kurang pas untuk ditonton anak - anak, banyak pemelintiran sejarah walau secara sinematografi memamg bagus. Sebagian orang bahkan di acara ILC lalu ada yang menyebutkan anggota PKI itu sudah sangat banyak ditambah ada markas diberbagai tempat, tentu hal ini gak dipercayai banyak pihak karena datanya yang tak jelas ditambah tak ada berita berkaitan penangkapan kelompok PKI dan semacamnya oleh polisi membuat rakyat bertanya - tanya akan kebodohan argumen isu PKI ini.

4. Isu Agama







Indonesia adalah negri dimana banyak orang menggunakan konsep agama untuk menggerakan hidupnya karena dianggap bisa mengarahkan hidup ke arah yang lebih baik. Tapi jangan salah kalau kadang agama juga dijadikan senjata pamungkas di kampanye politik. Banyak orang kadang keliru soal hal ini. Mereka dengan tegas menyatakan bahwa politik itu diatur dalam agama, jadi ketika agama dibawa - bawa sebagai senjata kampanye, mereka tak perlu risau akan hal itu. Dalam konteks politik dan kampanye politik agama bisa jadi dua hal, satu sebagai pondasi dasar dalam menggerakan politik oleh individu atau kelompok di mana hal ini tak bermasalah sama sekali. Satu lagi agama sebagai permainan politik di mana elit politik menggunakannya untuk memuluskan kepentingannya, pencitraan dan meraih tangga jabatan yang lebih tinggi lagi. Di sini tentu yang bermasalah adalah ketika agama digunakan sebagai permainan politik. Yang terbaru misalnya kasus penggunaan sandi agama sebagai jalan komunikasi bagi para koruptor, korupsi dana haji lalu juga kitab suci Al-Quran. Tak cukup sampai situ, sebagian calon atau pejabat juga rela ingin terlihat agamis agar bisa meraih simpati dan menenangkan hati para pemilih agar para pemilih tak merisaukan para pejabat tersebut karena merasa bahwa mereka adalah orang relijius jadi tak mungkin ingkar janji apalagi korupsi. Sayangnya kadang pemikiran seperti inilah yang dimanfaatkan oleh para politisi busuk itu agar bisa melanggengkan langkahnya dan memudahkan kepentinganya. Tak heran beberapa pemimpin yang terlihat agamis di wilayah yang agamis kadang tertangkap basah karena kasus korupsi, itu karena ia dari awalnya bukanlah panutan yang relijius. Bahkan sebagian dari mereka tak punya kinerja bagus walau sampai saat ini belum tersandung kasus korupsi, hasil kinerja mereka bisa terlihat dari wilayah yang dipimpin yang tak ada kemajuan sama sekali. 

Di sini isu agama tak sekedar hal itu namun terbagi - bagi lagi bentuknya, berikut contohnya:

- Sentimen Agama lain

Sentimen yang dimaksud di sini adalah tuduhan tak mendasar dan sangat penuh stereotype (sikap generalisir berunsur hal negatif terkait suku, ras, agama dan sejensinya) dan prejudice (prasangka negatif) kepada calon pemimpin dengan rangkaian pesan hasutan kebencian dan tentunya berunsur hoax atau palsu. Misalnya tuduhan pada pilpres sebelumnya yang menuduh bahwa calon presiden Jokowi ternyata beragama kristen yang dibuktikan dari akta atau buku nikahnya itu melalui sosial media. Usut punya usut ternyata itu hanya hoax semata atau informasi palsu yang dilebih - lebihkan karena ingin para pemilih islam menjauhi Jokowi dan tak memilihnya karena haram memilih pemimpin non islam yang biasanya seperti ini terus didengungkan oleh kelompok konservatif.

- Sosok yang tak mampu memahami agamanya sendiri

Pada pilpres 2014 Jokowi pernah dituduh sebagai calon pemimpin yang tak mengerti tata cara ibadahnya sendiri seperti gambar pada saat ia wudhu atau memakai pakaian haji. Sebenarnya ini juga termasuk calon lain yang mungkin ikut menghadiri acara agama lain di tempat ibadah umat lain itu yang oleh oknum tertentu akan dituduh menyimpang dan sebagainya, padahal belum tentu seperti itu. Dalam konteks Jokowi misalnya, serangan ini dibuat untuk menghancurkan citra dirinya yang awalnya merakyat menjadi sosok yang tak relijius. Anggapan bahwa pemimpin yang tak relijius ini didengungkan ke tipe pemilih yang relijius karena ada anggapan bahwa pemimpin yang baik dan amanat itu orang saleh dan dekat dengan tuhannya, taat beribadah serta paham akan agamanya. "Jika ada pemimpin yang tak paham akan agamanya maka negara yang dipimpinnya akan kacau," begitu sekiranya kelomopok yang mengaku relijius itu memandang. Tentu tak ada masalah akan hal itu sebenarnya, yang jadi masalah ketika isu seperti itu digunakan untuk menyerang lawan ditambah dengan bumbu - bumbu hoax yang ternyata pesan dari kampanye hitam terkait isu ini ternyata tak benar adanya. Apalagi jika sejatinya ada orang yang tak dekat dengan tuhannya dengan baik, tentu secara bijaksana bisa dibimbing dengan baik, bukan dicemooh apalagi dijauhi. Namun dalam konteks kampanye hitam, sayangnya tak begitu. Isu seperti ini digunakan agar pemilih relijius diharapkan tak menyukai calon pemimpin yang tak relijius itu walau tak seagama, agar nantinya calon pemimpin itu kehilangan suara di kalangan mereka.

- Anti Islam & Perppu Ormas, 212 & Penista Agama Ahok, Kriminalisasi Ulama

Ini merupakan isu yang sebenarnya masih dibilang baru namun punya daya kekuatan yang dahsyat walau terjadi tahun lalu, namun akhir - akhir ini agenda seperti ini terus didengungkan, misalnya seperti acara reuni 212. Isu yang dimulai semenjak Ahok keseleo lidah dan berakhir di penjara membuat beberapa kubu politik menjadi senang, pasalnya mereka yang gerah dengan tindak tegasnya menjadi senang dan berhasil menjungkalkannya dengan isu yang sensitif yaitu isu agama. Di sisi lain pemerintah yang tak ingin kembali kecolongan karena para politisi buruk itu yang menggunakan isu agama sebagai senjata sambil dengan menggunakan beberapa kelompok konservatif salah satunya HTI yang sempat demo menolak Ahok karena tak ingin dipimpin oleh pemimpin non muslim, akhirnya juga mengeluarkan senjata ampuhnya yaitu perpu ormas. Tentu hal ini mengundang polemik kepada berbagai ormas tertutama ormas islam, selain itu juga kelompok pembela hak asasi manusia di mana mereka menganggap kebijakan ini sedikit tak adil, mempersempit kebebasan berekspresi dan kubu ormas islam tentu menuduh sebagai bentuk sikap pemerintah yang anti islam. Selain itu juga yang terjadi akhir - akhir ini misalnya tentang protes akan kriminalisasi ulama baik di dunia nyata maupun dunia maya. Isu kriminalisasi ulama di sini sebenarnya tak cuma mereka yang ditangkap karena diduga terkait kasus makar, namun juga sedikit melebar seperti ulama - ulama yang ditolak di acara tertentu seperti yang dialami Ustad Feliz Siauw dan Abdul Somad.

Nah untuk memahami bentuk kampanye hitamnya, ayo simak penjelasan berikut!

Pada dasarnya tak ada masalah dengan hal - hal tersebut, namun yang jadi masalah apabila isu - isu tadi menyerang pada sosok yang tak ada sangkut paut dengan tuduhan yang berunsur hoax. Seperti tuduhan anti Islam melalui isu perppu ormas itu. Beberapa narasi provokatif mungkin akan menuduh sang calon yaitu calon incumbent sekarang yaitu Jokowi dengan tuduhan pemimpin atau presiden anti islam. Padahal jika memang anti islam maka seluruh kegiatan ibadah umat islam dilarang dan dipersulit toh faktanya tidak. Yang dilarang hanya sebagian kelompok yang anti Pancasila dan mau merongrong atau mengambil alih kekuasaan dan diganti dengan ideologi kelompok itu dan kebetulan HTI termasuk dalam hal itu karena beberapa negara mayoritas islam lain pun juga melakukan hal yang sama toh gak dicap anti islam karena mereka tahu HTI gak jauh dari alat politik yang berbahaya untuk sebuah negara. Tapi apakah pemerintah membubarkan HTI karena dia islam, tentu tidak. Kelompok itu dibubarkan karena alasan tadi yaitu merongrong kekuasaan dan anti Pancasila, toh masih ada ormas islam lain yang bisa mengeluarkan ekspresinya. Inilah yang disebut dengan generalisir, ketika hanya ada sebagian tapi diklaim semua hanya untuk meraih simpati dan amarah publik. Tidak semua ormas dibubarkan dan dibubarkannya bukan karena islam tapi karena ideologi dan tujuan ormas tersebut yang membahayakan negara. Dan kelompok ormas yang dibubarkannya pun tidak banyak bahkan sangat sedikit itupun masih wacana setelah yang pertama HTI. Kalimat tuduhan pemerintah, pemimpin anti Islam akan menggambarkan seolah pemerintah dan pemimpinnya memusuhi Islam padahal tak seperti itu.

Lalu yang kedua ada 212 dan Ahok penista agama. Yah isu ini sangat terkenal bahkan sering dijadikan pembicaran di sosial media. Tak hanya itu, isu ini juga diramaikan dengan beberapa aksi demonstrasi menuntut sang penista agama dipenjara. Banyak yang mengkaitkan dengan intik politik semata karena berkaitan dengan pilgub 2017, selain itu tuntutan penista agama sebagai kategori hate speech juga cenderung dipaksakan (soal hate speech ini akan kita bahas juga). Lalu bagaimana bentuk kemungkinan kampanye hitamnya nanti, seperti aksi 212 yang dijadikan moment untuk menjaga dan mengingatkan pandangan atau gagasan agar tak lupa bahwa pada waktu tersebut sebagai kemenangan islam sekaligus pemimpin islam dari kubu koalisi partai pendukung sang pemenang dan jatuhnya sang penista agama. Sang incumbent tentu sebagai presiden akan diidentikan dengan sosok yang kurang tegas dan lemah karena tidak berani menindak Ahok dengan cepat. Alasan sidang yang berlama - lama, penetapan Ahok sebagai pihak yang bersalah berserta Ahok yang tidak dipenjara akan dijadikan senjata untuk menjatuhkan sang presiden yang seolah ada sosok kuat berada dibaliknya. Padahal alasan - alasan tersebut juga kurang pas karena memang prosedur hukum seperti itu. Sang incumbent juga akan dinarasikan sebagai pelindung penista agama tentu tujuannya memancing amarah dan kebencian kepada target mereka baik yang sesama pendukung pesaing incumbent ataupun orang awam terutama yang seiman agar tak memilihnya kembali sebagai presiden selanjutnya.

Yang ketiga ada kriminalisasi ulama yaitu isu yang juga dilancarkan karena benar - benar sangat sensitif walau maksud ulama di sini adalah ulama yang ditangkap karena makar, ditolak di acara tertentu dan yang mendukung gerakan mereka yaitu 212 dan menolak Ahok. Uniknya pada saat itu juga ada ulama lain yang tak setuju bahwa Ahok menista agama yaitu Buya Syafi Maarif, Quraish Shihab dan juga Gus Mus. Dan pada saat itu juga mencaci mereka dengan kata - kata yang kurang pantas. Hal ironis ketika mereka ingin membela ulama namun di saat yang sama juga menjelekan ulama yang berbeda pandangan dengan mereka. Tentu seperti yang saya bahas terkait masalah ini, ini adalah murni permainan politik. Islam bisa dicap islam abal - abal, ktp, gak kaffaf hanya karena mendukung pasangan nomer dua sedangkan ulama pun bisa dianggap bukan ulama hanya karena tak setuju bahwa Ahok itu menista agama. Andai saja mereka setuju bahwa Ahok menista agama dan mendukung pasangan nomer satu tentu gak bakal dilabeli dan dituduh seperti itu. Ini yang saya maksud agama juga dijadikan permainan politik bukan konsep dalam kehidupan berpolitik karena hanya dengan memilih pasangan yang ada calon non islam ditambah dituduh penista atau berpendapat bahwa calon tersebut tak menista agama di saat mendekati pilkada maka dengan mudah menuduh keislamannya hilang atau bukanlah ulama yang sebenarnya, padahal soal beragama itu tidaklah sesimpel itu hanya dengan standar pilgub atau bahkan pilpres. Ini adalah bentuk ancaman laknat halus agar sang pemilih berhati - hati karena selain ada faktor agama mungkin saja ada faktor lain seperti ancaman secara sosial misal diputus tali silaturahminya, tidak disolati jenazahnya seperti yang pernah ada sebelumnya dan lain sebagainya yang membuat mereka sedikit terkait hal ini dan berujung pada memilih yang bukan sesuai hati dan pikirannya. Selain soal tadi juga termasuk ulama atau mungkin ustad lain seperti Felix dan Somad yang mengalami penolakan di acara tertentu. Oknum - oknum kampanye hitam akan memanfaatkan ini dengan dalih bahwa selain sang capres incumbent yang juga dituduh dibalik Ahok, menindas islam lewat perppu ormas yang disahkan pada saat ia menjabat tentu juga lewat tuduhan yang seolah berperan serta dalam menzalimi umat islam salah satunya lewat isu kriminalisasi ulama dan tak bertindak tegas dan tak berniat untuk menolong ulama itu apalagi kejadian ini hadir pada saat ia menjabat. Padahal tentu ini hanya kampanye hitam semata karena tak semua ulama ditangkap, yang ditangkap hanya yang kebetulan bermasalah saja. Selain itu juga belum tentu sang incumbent terkait langsung dengan hal tersebut karena gak semua hal ini diurus presiden, masih ada pihak lain yang melaksanakan hal ini karena tugas presiden bukan mengurus ini semata. Lagipula mereka yang tak bermasalah masih bisa aktif hingga hari ini. Target dari isu ini sama seperti sebelumnya.

- Isu Myanmar

Ini hanyalah isu minor yang kemungkinannya kecil, yaitu terkait penindasan islam di Mnyanmar. Walau pemerintah ditangan sang incumbent sudah berusaha yang terbaik tapi masih ada pihak yang menganggap pemerintah lambat sehingga menyebabkan banyak muslim Rohingya menderita. Bentuk kampanye ini akan menuduh sang incumbent yang seolah lelet dalam menyikapi masalah kemanusiaan dan belum lagi kebetulan etnis tersebut mayoritas beragama islam di mana hal ini memicu kejengkelan umat islam lain di beberapa negara. Mungkin yang paling parah tuduhan kalau Indonesia hanya memberikan bantuan sedikit atau tak sama sekalu yang tentu tuduhan ini nantinya tidak benar bahwa Indonesia pada saat itu sudah melalukan semua yang terbaik melalui diplomasi agar mencegah konflik itu terus berlanjut dan tentunya mengirim beberapa bantuan kepada masyarakat Rohingya.

- Palestina & Israel beserta Amerika

Walau termasuk isu minor atau kecil, setidaknya ini juga mungkin bisa menjadi senjata. Mirip dengan isu Rohingya, sang incumbent akan dianggap pemimpin yang tak tegas dan tentunya ini membuat kecewa sebagian pemilih islam dan berdampak pada perolehan suara nanti. Walau sebenanya pemerintah sendiri sudah melakukan upaya dan memang ada kendala namun setidaknya pernyataan politik internasional yang tak setuju dengan tindakan semena - mena Israel dan Amerika sudah menunjukan bahwa Indonesia menunjukan posisinya sebagai tameng Palestina ketika konflik itu hadir. Baik isu ini dan Mnyanmar sama - sama menarget pemilih muslim yang konservatif, belum bisa berpikir kritis dan emosioanal.

- Isu Syiah beserta kelompok penghayat kepercayaan

Isu menengah ini masih populer dengan berbagai tuduhan yang tidak hanya mungkin menyambar ke pendukungnya tapi juga sang incumbent itu sendiri. Ditambah di era Jokowi atau sang incumbent muncul pengesahan penghayat kepercayaan yang mendapat reaksi keras dari sebagian kelompok dan lembaga islam seperti MUI dan Muhammadiyah misalnya yang memang sangat konservatif. Bentuk tuduhan ini seperti sang incumbent yang tak bersikap tegas kepada syiah  yang melenceng dari ajaran islam seperti memperingati Asyura. Selain itu para oknum kampanye hitam juga memanfaatkan rasa takut kaum konservatif dengan disahkannya penghayat kepercayaan bisa berpengaruh ke iman, lalu membuatnya berpindah agama sehingga para oknum kampanye hitam mengatakan berbahaya karena mengurangi jemaat mereka atau anggota umat mereka. Dengan begini maka mereka akan menuduh sang incumbent sebagai pendukung aliran - aliran melenceng yang membahayakan iman umat sehingga harus dijauhi dan tak dipilih. Target dari isu ini masih sama yaitu mereka yang relijius, yang konservatif dan emosional terutama dari pemilih yang kebetulan beragama islam.

- Tuduhan Radikal, Intoleran dan lain sebagainya

Kita boleh saja waspada dengan isu komunisme atau radikalisme namun bukan berarti bisa menuduh seenaknya tanpa data fakta yang benar. Kalaupun fakta pun menyikapi juga harus bijak dan sesuai aturan hukum. Di sini bentuk tuduhan ini adalah balasan dari kubu pembela incumbent yang merasa jengkel dengan tuduhan komunis, aseng dan lain sebagainya. Maka mereka mungkin juga memakai jurus yang sama yaitu nyebar provokasi hoax namun bedanya kali ini adalah tuduhan radikal, intoleran, anti pancasila dan lain sebagainya kepada mereka yang mendukung calon pesaing dari incumbent itu secara acak. Tentu yang seperti ini juga tak dibenarkan karena menuduh tanpa bukti dan dengan provokasi. Misalnya seperti tuduhan akun saracen dan sebagainya padahal ia cuma menyuarakan dukungan kepada pemimpin jagoannya itu. Target dari kampanye itu adalah pendukung incumbent yang gak kritis dan emosional.

- Perbandingan sang incumbent dengan pemimpin negara mayoritas Islam

Isu ini biasanya terkait dengan masalah pada sebuah negara yang kebetulan minoritas islam yang ditindas atau individu atau kelompok islam yang mengalami hal yang sama. Bedanya ada sosok pemimpin hebat dari negara mayoritas islam seperti Erdogan atau Sultan Brunei yang dipropagandakan seolah rela berbuat apa saja demi menolong sesama islam yang ditindas. Padahal kabar itu juga tak jauh dari hoax. Sialnya dipercaya bagi pembacanya ,apalagi juga membandingkan dengan pemimpin sendiri yang dianggap kurang tegas dan peduli tentu semakin membuat simpati publik kepada sang incumben memudar. Inilah yang membuat mereka malas memilih sang incumbent karena tak peduli dengan sesama islam kalah sama pemimpin macam Erdogan, padahal kabar itu juga hoax dan tak benar bahwa Erdogan misalnya juga turun tangan terkait masalah tertentu.

5. Isu LGBT




Sempat menjadi pembahasan publik bahwa LGBT tidak disahkan menjadi pidana oleh MK menuai kritik keras oleh beberapa pihak salah satunya kelompok konservatif  yang merasa LGBT sudah melenceng dan harus dihukum. Mungkin mirip seperti wilayah yang menggunakan hukum syariah bahwa LGBT harus diberi sangsi. Sayangnya banyak oknum manginya akan memanfaatkan situasi ini seolah di masa inilah presiden mendukung aksi LGBT, padahal bukan seperti itu. Hukum Indonesia dari beberapa wilayah tak menggunakan hukuman agama seperti yang diterapkan di Aceh, di mana zina, LGBT, dan perbuatan moral langsung diberi sangsi. Pemerintah tentu tidak menggunakan hal seperti itu dalam menyadarkan pelaku yang dicap melenceng dari agama seperti LGBT atau melakukan perbuatan tak bermoral seperti berzina di luar nikah, kumpul kebo dan lain sejenisnya karena masih belum taraf bentuk kriminalitas kecuali mereka tadi merampok, memperkosa, membegal dan lain sebagainya. Tentu walaupun menolak perbuatan moral tersebut sebagai pidana karena masih dalam tingkat privasi, bukan berarti sang incumbent dan pemerintah setuju dengan hal - hal tadi namun mereka memilih menyadarkan dengan cara lain misalnya dakwah persuasif, kampanye sosial, kampanye penyuluhan kesehatan seperti waspada HIV/AIDS  dan lain sebagainya. Tapi tentu mungkin sang incumbent oleh beberapa oknun akan dituduh sebagai pro LGBT karena tidak menganggap sebagai bentuk pidana. Target dari kampanye ini adalah para orang tua yang biasanya khawatir terhadap anaknya, pemilih relijius baik moderat atau konservatif, pemilih emosional dan tak mampu berpikir kritis. 

6. Propaganda lewat Persekusi



Kampanye hitam bentuk seperti ini gabungan dari aksi nyata dan dunia maya di mana korban yang dianggap melakukan hate speech yaitu sebuah penyataan hasutan kebencian karena didasari perbedaan suku, ras, agama dan lain sebagainya dan biasanya disertai dengan ancaman tertentu. Beberapa pihak sayangnya salah kaprah akan hal ini seolah hate speech itu hanya sekedar pernyataan yang mencemarkan nama baik, kritikan terhadap sosok tertentu yang dianggap hebat di masyarakat dan lain sebagainya. Padahal konteksnya beda, dalam konteks pemilu misalnya ketika ada korban persekusi yang dipersekusi karena mengkritik sosok yang jadi panutan umat tertentu yang kebetulan jadi calon presiden dan sosok yang jadi panutan pun tentu tak bisa lepas dari salah, namanya juga manusia. Namun para pembela fanatik panutannya yang merasa terluka hatinya, mereka menganggap kritikan itu sebuah penghinaan dan penistaan terhadap panutannya jadilah korban yang mengkritik itu kena persekusi dan dituduh melakukan hate speech. Itu baru bentuk di dunia nyata, di dunia maya, pelaku persekusi akan memasang kampanye hitam bahwa korban persekusi mengaku bersalah dengan narasi dramatis seolah mereka berhasil menundukan pendukung pesaing agar tak main - main dengan pemimpin mereka, sekaligus menunjukkan betapa perkasanya mereka dan lemahnya pendukung pesaing. Ini adalah propaganda dengan maksud unjuk kekuatan, sekaligus ancaman bagi para pesaing agar hati - hati dalam pemilihan nanti dalam artian jika mereka tak mau mengalami nasib yang sama maka harus mendukung pemimpin panutan mereka atau nggak jangan suka mengkritik. Ya, persekusi terkadang jadi alat fisik sebagai pembungkam bentuk sikap kritis, mereka yang mengkritik akan dituduh menista atau melakukan hate speech padahal tidak sama sekali. Justru para pelaku hate speech adalah yang melakukan persekusi itu dimana sebelum mempersekusi mengeluarkan ajakan mengancam bagi mereka yang mengkritik pemimpin mereka. Target dari kampanye hitam ini adalah para pemilih emosional yang tak bisa berpikir kritis, fanatik apalagi terhadap sosok yang jadi panutannya dan para pemilih lingkup pendukung calon idolanya tersebut.

Hal - hal tadi merupakan bentuk perkiraan kampanye hitam yang akan datang, lalu bagaimana kampanye hitam itu hadir di sosial media atau dunia maya?

Yang pertama kampanye hitam itu hadir melalui sebuah postingan yang berisi gambar (screenshot berita dan status, poster, meme, gambar editan dan semacamnya) dengan narasi yang menyentuh hati dan penuh hasutan kebencian, lebay dan sensasional karena pada dasarnya memancing amarah itu ada cara langsung seperti menulis narasi provokatif dan tidak langsung yaitu cerita menyentuh hati misalnya kisah seorang anak yang jadi korban perang, sebagian mereka yang emosional awalnya akan merasa iba lalu langsung naik pitam setelah mengetahui siapa yang menyerangnya. Narasi itu nantinya disebar di grup atau forum yang terjadi banyak debat terkait politik, agama, sosial, ekonomi dan semacamnya, banyak postingan hoax, banyak postingan diskriminasi sara dan pesan hasutan kebencian misal kalau di facebook seperti grup zakir naik fans Idonesia, dukungan abu janda, pendukung Prabowo ataupun mungkin Jokowi. Tak cukup sampai di situ, oknum penyebar kampanye hitam akan mengkopas atau mengcopy paste narasi ataupun link dari postingan kampanye hitam tersebut tak hanya di grup seperti itu namun juga kolom komentar di sebuah postingan berita beserta linknua dari sebuah fanpage portal berita apapun itu beritanya namun pada umumnya berita yang memojokkan jagoannya dan memuji pesaingnya. 

Lalu untuk mencegah kampanye hitam, karena banyak hoax didalamnya maka penyebaran postingan hoax baik dari sosmed atau webiste harus lebih banyak dari penyebaran hoax itu sendiri. Alasan kenapa orang banyak yang percaya hoax karena postingan hoax jauh lebih banyak dari postingan klarifikasi hoax itu sendiri. Ini dijelaskan dalam teori komunikasi spiral keheningan yaitu teori yang menjelaskan bahwa suara mayoritas menekan suara minoritas, mereka yang tak tahu apa - apa akhirnya mengikuti suara mayoritas karena menganggap suara mayoritas itu benar, baik dan hebat. Tentu untuk memberantas hoax disini penyebaran klarifikasi hoax harus - harus jauh lebih banyak dan besar kalau bisa tidak hanya melingkupi sosial media tapi juga koran, tv, radio bahkan aplikasi char seperti WA yang emang banyak sekali kabar hoaxnya, ditambah tak ada informasi klarifikasi terkait hal itu tentu semakin membuat audiens bingung hingga mengikuti suara mayoritas yaitu para penikmat hoax dan penyebar hoax. Selain itu penyebaran ini juga dilakukan oleh akun ternak atau akun palsu, jika bisa melaporkan agar akun ini dimatikan itu juga mempermudah mengurangi kampanye hitam yang ada hingga dunia maya bersih dari hal kotor tersebut.

Sekian tulisan dari saya, mohon maaf jika masih ada kekurangan.



Salam damai untuk semua